Seperti yang kita tahu bahwa program studi DKV terus bermunculan di banyak institusi pendidikan di Indonesia. Di mana peran para peserta didik diharap mampu untuk melakoni suatu persaingan yang nyata dalam dunia industri dan masyarakat. Persaingan semacam ini sering kita temui pada dunia kerja, di mana persaingan bukan hanya terjadi antara sarjana DKV saja, melainkan para praktisi dari luar keilmuan pun memeroleh status yang sama sebagai ‘desainer’. Setidaknya ini bisa menjadi otokritik bagi keilmuan DKV untuk mencari sebuah posisi dalam proses penanganan proyeksi, di mana dasar-dasar solusi yang terurai menjadi pondasi dalam strategi pembentukan media.‘Probem Solver’ tampaknya menjadi istilah yang dituntut untuk menata sebuah kerangka berpikir melalui serangkaian materi secara metodologis. Seperti pada kasus periklanan di mana wacana ini terlayang pada salah satu studi pokok dalam Desain Komunikasi Visual, yang membutuhkan tinjauan secara kompleks terkait keprodukan/jasa. Ini dimaksud agar bagaimana citra yang terbangun dapat mengena pada konteks kebutuhan. Untuk itu, skema perancangan ini merupakan sebuah alternatif dari apa yang bisa dijadikan panduan untuk proses perancangan dalam berbagai skala. Menjadi alternatif, berarti pilihan lain yang ideal terletak pada bagaimana metode itu berjalan dalam area tertentu – seperti industri. Yang mana menjadi pembeda adalah ketika desainer diposisikan sebagai penerjemah hasil proses briefing dari keinginan perusahaan (klien). Maka, cara pembacaan dalam skema yang ditawarkan ini merupakan tahapan awal dari itu semua, sebagai bentuk latihan dan sebagai pemandu para peserta didik dalam mengkaji sebuah permasalahan produk yang dipilih.
Copyrights © 2021