ABSTRAKHutan Mangrove di Teluk Kulisusu Utara mengalami konversi lahan yang menyebabkan penurunan populasi kepitingbakau (S. serrata) dan penurunan hasil tangkapan nelayan. Kondisi kerapatan mangrove diklasifikasi dalam 4 kriteria menggunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Landsat 8 OLI, yakni kerapatan lebat (0,043 -1), kerapatan sedang (0,247 - 0,403), kerapatan jarang (0,082 - 0,247) dan kerapatan sangat jarang (0,027 - 0,082).Penggambilan sampel kepiting bakau bakau menggunakan bubu. Total sampling sejak April sampai June sebanyak 12 kali. Kelimpahan relatif kepiting bakau tertinggi ditemukan pada stasiun III yaitu 10,41 ind/trip yang ditemukan pada mangrove dengan kerapatan tinggi (0,403 - 1). Sedang kerapatan rendah terdapat pada stasiun II 0,08 ind/trip pada hutan mangrove dengan kerapatan sangat jarang (0,027 - 0,082). Hasil analisis pola pertumbuhan kepitig bakau menunjukan allometrik negative (b < 3). Oleh karena alat tangkap bubu yang digunakan banyak menangkap ukuran juvenile maka alat tangkap ini merupakan alat tangkap non selektif yang dapat mempengaruhi secara negative keberlanjutan populasi di lokasi perairan ini. Dengan demikian makan penggunaan alat perlu dirancang ulang (redesign) menjadi lebih selektif atau alat tangkapan tangkap mempunyai pintu keluar yang tujuannya untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya populasi kepiting bakau.Kata kunci: Kepiting bakau (S. serrata), kerapatan mangrove, pola pertumbuhan
Copyrights © 2023