Melalui pendekatan yang memandang identitas sebagai ihwal protean atau lekas berubah, analisis dalam tulisan ini membahas secara mendalam bagaimana novel terbaru Mohsin Hamid berjudul Exit West (2017) merepresentasikan keragaman afiliasi Muslim. Di sini yang dimaksud dengan afiliasi adalah, mengikuti Paul Gilroy (2004), komitmen seseorang untuk melibatkan diri dalam satu lingkar peradaban tertentu. Dalam karya terbarunya, Hamid menarasikan fenomena krisis pengungsi di seluruh dunia melalui kisah perjalanan dan hubungan saling sengkarut antara dua sekawan Muslim, Saeed dan Nadia. Lewat penggambaran kisah dua tokoh itu, para pembaca disuguhi dengan persoalan-persoalan tumpang-tindih yang dialami masyarakat pendatang ketika mereka berhadapan dengan kebencian, yang disebabkan 9/11, dari masyarakat tuan rumah. Hasil temuan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa walaupun Hamid mengafirmasi imaji radikalisme konservatif lewat penggambaran tokoh laki-laki Muslimnya, pada saat yang sama ia juga menantang dimensi monolitik identitas Muslim itu dengan menggarisbawahi persoalan rasa memiliki dan eksklusi. Dengan mengaburkan batas antara ruang privat dan publik, ia juga mempersoalkan citra ketertindasan perempuan Muslim Dunia Ketiga serta menjelaskan signifikansi posisi tawar perempuan Muslim dalam konstelasi identitas Muslim yang rumit. Lebih jauhnya, Hamid juga tidak hanya mempromosikan repositori kultural dunia Islam, tetapi juga warisan dunia Barat dengan mengafiliasikan teksnya lewat alusi-alusi lintas budaya. Melalui pertimbangan-pertimbangan tersirat dalam novel Hamid di muka, tulisan ini menilai novel Hamid menawarkan makna alternatif yang lebih inklusif dari istilah migrasi.
Copyrights © 2019