Tradisi danyang merupakan tradisi yang dilaksanakan di Desa Ngadirejo sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang diberikan Tuhan dan permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan Desa Ngadirejo, serta penghormatan kepada leluhur desa (danyang). Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan sejarah terjadinya tradisi danyang dan tahapan-tahapan dalam tradisi danyang, serta menganalisis makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa tradisi danyang telah dilaksanakan sejak Desa Ngadirejo berdiri dan pelaksanaannya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, acara inti dan tahap akhir. Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi, dihadirkan dalam piranti-piranti yang digunakan dan gending-gending yang dinyanyikan, tentunya memiliki makna tersendiri. Tinjauan lebih lanjut terkait makna simbolik yang terkandung dalam tradisi danyang menggunakan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer menghasilkan bahwa makna yang terkandung dalam simbol-simbol di tradisi danyang adalah hasil pemaknaan individu yang dikonstruksi atau dimaknai secara bersama-sama dalam proses interaksi sosial yang akhirnya juga disempurnakan pada saat interaksi sosial berlangsung.
Copyrights © 2024