Artikel ini meneliti tentang pengelolaan stasiun radio dalam menjawab pemberlakuan social distancing dan lockdown oleh pemerintah Indonesia pada saat pandemic COVID-19 tahun 2020. Radio Prambors & Radio Gen FM dipilih sebagai objek penelitian karena kedua radio ini menduduki peringkat atas untuk perolehan pendengar anak muda. Perhatian riset ini terutama diberikan pada tahun pertama pemberlakuan pandemic COVID-19 (Maret 2020 hingga Desember 2021); ketika pemerintah pertama kali memberlakukan PPKM. Pengumpulan data penelitian kualitatif ini dilakukan melalui wawancara mendalam melalui aplikasi zoom. Dengan pemahaman kritis teori ekonomi politik komunikasi dari Vincent Mosco, artikel ini menjelaskan bagaimana pandemi COVID-19 dilihat sebagai agen perubahan transformatif dalam memproduksi konten siaran. Selain mengeksplorasi bagaimana kedua radio ini menyesuaikan cara memproduksi konten siaran selama pandemic dan situasi yang ditimbulkan oleh social distancing & lockdown, penelitian ini juga untuk menjawab masalah yang muncul ketika produksi siaran dipindahkan dari studio ke rumah. Praktik komodifikasi isi media dan tenaga kerja terjadi dimana kedua radio ini dipaksa untuk menyesuaikan pengelolaan baik dari segi produksi maupun distribusinya ke anggota jaringan radio agar tetap dapat terus menyapa pendengarnya. Dalam proses penyesuaian untuk memproduksi isi program terdapat banyak kendala seperti koneksi jaringan yang buruk, kebutuhan akan peralatan siaran dan keterampilan pekerja dalam memproduksi isi siaran, termasuk juga jadwal kerja yang tidak sesuai dengan kontrak yang mempengaruhi keseimbangan hidup produsen konten siaran. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa rumah sebagai tempat kreasi isi siaran cenderung memberikan kompromi atas standar produksi siaran yang seharusnya, termasuk distribusi dan kualitas audio.
Copyrights © 2024