Artikel ini membahas tantangan yang dihadapi Gereja dalam konteks politik identitas di Indonesia, terutama selama tahun politik. Dengan keragaman suku, agama, ras, dan golongan yang tinggi, Indonesia rentan terhadap konflik identitas politik, yang sering kali timbul dari intoleransi agama. Konflik ini sering kali berkaitan dengan tingkat keragaman yang tidak diimbangi dengan nilai-nilai kerukunan dan persatuan. Dalam konteks ini, Gereja harus waspada terhadap risiko politik identitas, terutama dalam strategi pelayanannya. Keberagaman seperti pertimbangan suku dan kelompok bisa mempengaruhi dinamika internal Gereja. Kekuatan Gereja hanya dapat tetap kokoh jika didasarkan pada Kristus sebagai tiang utama. Di tengah kerumitan politik di Indonesia, politik identitas dilihat sebagai ancaman terhadap persekutuan Gereja. Lebih lanjut, politik identitas berkaitan dengan kepemimpinan dalam Gereja, di mana pemimpin harus memiliki visi dan misi yang kuat, yang dibangun melalui komunikasi dan relasi yang solid. Gereja harus berhati-hati dalam menghadapi politik identitas ini. Untuk melawan politik identitas, diperlukan iman (spiritualitas) yang mendukung sikap toleransi, cinta keadilan dan kebenaran, serta empati terhadap kelompok marginal. Dengan cara ini, Gereja dapat berkontribusi dalam mengatasi permasalahan yang timbul dari politik identitas di Indonesia.
Copyrights © 2023