Tulisan ini mencoba menghadirkan Lariangi sebagai sebuah ritual tradisionalmasyarakat Kaledupa di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Seiringberjalannya waktu, lariangi ini mengalami pergeseran dari sebuah ritual tradisionalmenjadi sebuah seni pertunjukan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Denganmemahami fungsinya sebagai sebuah representasi komunitas pemiliknya, Lariangiakhirnya bergeser fungsinya setelah melalui negosiasi, (1) masuknya Islam danmempengaruhi tradisi Hindu yang mulanya ada dalam Lariangi, (2) peralihan bahasayang terjadi seiring berjalannya waktu dan (3) pergeseran fungsi Lariangi sertaperuntukkannya. Representasi ideologis akhirnya bergeser dalam Lariangi danmelahirkan kepaduan baru dalam peralihan kepercayaan masyarakat pemilik Lariangisejak masa pra-Islam dan setelah hadirnya Islam. Hal ini pun tampak dalammasyarakatnya yang islami tetapi masih „menjaga‟ tradisi Hindu sebagai satu-satunyajejak yang terdeteksi. Juga karena pengaruh ekspansi Kesultanan yang memilikibahasa Wolio sebagai lingua franca menghilangkan jejak kehidupan kuno dimasyarakat Kaledupa. Pada tahap ini Lariangi tidak dapat lagi menjadi representasiidentitas utuh masyarakat Kaledupa.
Copyrights © 2023