Society 5.0 menjelaskan peran sentral IoT, AI, dan robot dalam perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi. Pengaruh tersebut tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kemajuan teknologi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar, yaitu apakah perkembangan teknologi ini bisa memengaruhi sumber dan pertimbangan moral manusia? Apakah hal tersebut membuat manusia menjadi entitas tanpa perasaan yang berfokus pada kemajuan global? Artikel ini bertujuan menganalisis isu moral pada Society 5.0 menggunakan sumber dan pertimbangan moral menurut David Hume dengan metode studi pustaka. David Hume menekankan dalam moralnya bahwa pengalaman empiris dan perasaan membentuk moralitas itu sendiri. Dalam Society 5.0, pengalaman empiris dan perasaan menjadi sesuatu yang diperhatikan. Alasan pertama adalah bahwa nilai pengalaman empiris mulai tergeser oleh teknologi, dan interaksi manusia dilakukan melalui media digital. Kedua, teknologi yang berkembang tidak dapat sepenuhnya menggantikan aspek emosional dalam hubungan antarmanusia, seperti kepercayaan dan simpati. Menurut Hume, kedua elemen ini penting dalam membentuk respons moral manusia sehingga dapat merefleksikan perasaan dan pengalaman empiris agar memiliki moralitas yang semakin relevan terhadap perkembangan teknologi Society 5.0.
Copyrights © 2024