Tulisan ini adalah bidang kajian wacana kritis yang mencoba mengungkap makna kata hajar atau menghajar, aman dan back up. Satu di antara tiga wacana ini menjadi wacana yang banyak diberbincangkan oleh para ahli linguistik, ahli hukum, dan masyarakat. wacana ini menjadi perdebatan yang ramai pada saat persidangan kasus pembunuhan Brigadir Josua. Untuk memahami makna implisit kata hajar, amankan dan back up, maka tulisan ini akan menganalisisnya dengan menggunakan kajian atau Analisis Wacana Kritis. Data yang digunakan adalah tiga buah kata yang muncul pada saat persidangan. Data tersebut diambil dari dokumentasi kasus persidangan terdakwa FS dan Bharada E dalam kasus Penembakan Brigadir Josua. Karena termasuk dalam kajian wacana kritis, proses penganalisisannya meliputi, proses deskripsi, penjelasan, dan eksplanasi. Dalam Analisis Wacana Kritis diperlukan praanggapan untuk mencari kemungkinan proposisi atau kalimat yang muncul sebelum wacana dihadirkan. Dalam penganalisisannya konteks situasi dan kekuasaan turut berperan dalam proses pemaknaan. Dari hasil penganalisisannya dapat disimpulkan bahwa kata hajar dalam kasus penembakan Brigadir Josua tidak hanya dianggap sebagai perintah untuk memukuli lawannya sampai tidak berkutik namun dapat dianggap sebagai perintah untuk melakukan penembakan. Kata back up mengandung makna secara implisit adalah mendukung atau menyokong. Kata amankan merupakan verba perintah untuk memberikan perlindungan. Dua kata ini mengandung makna konotasi negatif karena digunakan untuk peristiwa atau kegiatan pelanggaran hukum atau norma. Dalam kajian secara kritis pernyataan yang di dalamnya mengandung kata-kata ini secara implisit bermakna perintah untuk melakukan penembakan, bukan hanya sekedar perintah untuk memberikan perlindungan.
Copyrights © 2023