Residivisme menjadi salah satu isu penting dalam sistem peradilan pidana, karena mencerminkan tingkat keberhasilan rehabilitasi terhadap pelaku kejahatan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji peran gender dalam tingkat residivisme di Indonesia. Melalui pendekatan kriminologi, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat residivisme berdasarkan gender. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder dari catatan kriminalitas dan profil narapidana yang disertai dengan wawancara mendalam terhadap narapidana yang telah mengalami proses rehabilitasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tingkat residivisme antara narapidana pria dan wanita. Narapidana wanita cenderung memiliki tingkat residivisme yang lebih rendah dibandingkan narapidana pria. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat residivisme juga berbeda antara kedua gender, di antaranya adalah kondisi sosial ekonomi, pendidikan, pengalaman kekerasan, dan dukungan sosial. Pembahasan hasil penelitian menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor gender dalam perumusan kebijakan rehabilitasi dan pencegahan kriminalitas. Implikasi temuan ini adalah perlunya pendekatan yang lebih sensitif terhadap perbedaan gender dalam program rehabilitasi narapidana untuk meningkatkan efektivitasnya. Selain itu, penekanan pada pencegahan kriminalitas juga harus memperhitungkan faktor-faktor gender untuk mengurangi tingkat residivisme di masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi bagi pengembangan teori kriminologi dengan menambah pemahaman tentang peran gender dalam tingkat residivisme. Rekomendasi penelitian ini mencakup perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang lebih spesifik yang memengaruhi tingkat residivisme berdasarkan gender serta evaluasi terhadap program rehabilitasi yang sudah ada.
Copyrights © 2024