Penelitian ini menginvestigasi kerentanan banjir di daerah aliran Ciliman dan Cilemer, Provinsi Banten, dengan menggunakan pendekatan multi-kriteria parameter dengan fokus pada Analytical Hierarchy Process (AHP). Dua skenario dengan proritas parameter yang berbeda dibandingkan: skenario satu perbandingan parameter berpasangan berdasarkan penilaian ahli (skenario-1) dan yang lainnya berasal dari sejarah kejadian banjir di daerah dengan kerentanan tinggi dan sangat tinggi (skenario-2). Tujuh parameter digunakan, yaitu elevasi/ketinggian permukaan, kemiringan tanah, curah hujan, geologi, jenis tanah, penggunaan lahan, dan jarak ke sungai. Hasilnya menunjukkan pembobotan parameter-parameter di kedua skenario berbeda secara substansial. Penelitian ini juga memvalidasi model kerentanan banjir dengan membandingkannya dengan sejarah kejadian banjir. Skenario-2 menunjukkan kesesuaian lebih baik terhadap titik-titik sejarah kejadian banjir, terutama di daerah kerentanan sangat tinggi, dibandingkan skenario-1. Parameter elevasi dan kemiringan tanah diidentifikasi sebagai faktor-faktor penting yang memengaruhi kerentanan banjir, dengan elevasi rendah dan kemiringan yang landai meningkatkan kerentanan, sedangkan kemiringan yang lebih tinggi mengurangi kerentanan terhadap banjir.
Copyrights © 2024