Bangladesh merupakan negara tujuan utama untuk menjadi tempat pengungsian dari etnis Rohingya. Kehidupan di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh, sangat mengkhawatirkan akibat tingginya angka kekerasan berbasis gender yang terjadi. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) sebagai salah satu badan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggungjawab terhadap seluruh pengungsi di dunia hadir untuk memberikan solusi melalui kerjasama dengan pemerintah Bangladesh dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam mengatasi isu kekerasan berbasis gender. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menjelaskan bagaimana UNHCR menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya di Bangladesh. Teori yang digunakan sebagai landasan adalah liberalisme internasional dan feminisme radikal. Hasil penelitian memberi gambaran, bahwa perlindungan bagi para pengungsi belum dapat dikatakan aman jika dilihat dari beberapa konflik yang telah terjadi hingga merenggut nyawa etnis Rohingya.
Copyrights © 2024