Bencana banjir setiap tahunnya melanda daerah perhuluan Kalimantan Barat, demikian pula DAS Melawi. Pada tahun 2021 banjir yang terjadi di DAS Melawi mengalami intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga berdampak kerugian pada masyarakat. Intensitas curah hujan yang tinggi diduga akibat perubahan iklim global. Sehingga diperlukan data curah hujan yang cukup akurat dan alat bantu seperti kurva IDF untuk memprediksi intensitas curah hujan. Untuk menangani hal tersebut, dapat memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini dengan menkombinasikan data curah hujan satelit TRMM yang dikombinasikan dengan data curah hujan observasi. Selanjutnya dilakukan analisis parameter statistik dan parameter distribusi yang paling sesuai. Intensitas curah hujan dihitung dengan metode mononobe. Hasil penelitian dari data kombinasi curah hujan satelit TRMM dan curah hujan observasi distribusi yang sesuai adalah metode gumbel tipe I. Besaran intensitas periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun dengan hasil 195.94 mm, 237.09 mm, 264.30 mm, 290.77 mm, 324.94 mm, dan 350.69 mm. Sedangkan persamaan yang didapatkan dari hubungan intensitas dan durasi pada kurva IDF didapatkan persamaan periode ulang 2 tahun yaitu Y2=-0.3215X+108.25, 5 tahun yaitu Y5=-0.3908X+131.59, 10 tahun yaitu Y10=-0.4536X+146.69, 20 tahun yaitu Y20=-0.4792X+161.38, 50 tahun yaitu Y50=-0.5356X+180.35, dan 100 tahun yaitu Y100=-0.578X+194.63. Dengan Y merupakan prediksi nilai intensitas curah hujan dan X merupakan nilai bebas data curah hujan. Kata Kunci: Banjir, Intensitas, Melawi, Mononobe, TRMM
Copyrights © 2023