Tema mengenai penundaan parousia sering kali menjadi bagian sentral dalam eskatologi Perjanjian Baru. Namun pemahaman tersebut hanya berhenti sebatas “pengharapan” oleh manusia saja. Artinya, yang ditunggu masih belum tiba. Menariknya, hanya dalam perumpamaan sepuluh gadis (Mat. 25:1-13) saja, “sosok” yang diharapkan tiba, telah tiba. Ia adalah mempelai laki-laki. Di sinilah letak kebaruan penelitian dalam artikel ini, sebab ketibaan “sosok” yang ditunggu ini menimbulkan paham lateness eschatology dan bukan delayed eschatology. Argumen utama dari artikel ini adalah bahwa 1) sangat aneh menerima kenyataan bahwa Yesus datang terlambat dalam pesta-Nya sendiri (jika pembaca masih menyejajarkan figur Yesus dengan mempelai laki-laki), dan oleh sebab itu, 2) muncul paham tentang lateness eschatology hanya dalam perumpamaan ini. Namun baik itu delayed maupun lateness, keduanya bukan karena Allah pada diri-Nya sendiri menyampaikan keterlambatan atau penundaan kedatangan-Nya, melainkan akibat pengharapan berlebih oleh manusia. Akhirnya, artikel ini membuka wacana apakah memang ada “keterlambatan” seperti itu dan mengapa tema tersebut muncul dalam Injil Matius.
Copyrights © 2024