Terminal Teluk Lamong merupakan perusahaan jasa bongkar muat kontainer di Indonesia yang menerapkan konsep green port dengan teknologi peralatan bongkar muatterbarukan. Salah satu konsep terbarukan yang unik dan menonjol adalah docking station. Fasilitas tersebut mempunyai tujuan untuk mempercepat aktivitas bongkar. Terminal Teluk Lamong memiliki 5 lapangan penumpukkan yang tersedia dengan 30 fasilitas docking. Masalahnya adalah dalam utilitas lapangan penumpukkan atau yard occupancy ratio (YOR) dalam kegiatan bongkar yang memiliki nilai persentase yang rendah (27%). Meskipun nilai persentase seharusnya sekitar 60%, karena itu nilai utilitas halaman belum optimal. Metode simulasi antrian (discrete) cocok digunakan karenabertujuan untuk membantu penentuan jumlah lapangan penumpukkan yang tersedia untuk aktivitas bongkar. Model kejadian diskrit ini hanya digunakan untuk aktivitas bongkar muat saja, karena fasilitas docking station hanya berada di aktivitas bongkar muat serta merupakan aktivitas yang paling dominan di perusahaan. Skenario terbaikyang didapat adalah menggunakan 3 lapangan penumpukan dengan 6 dcoking area di setiap lapangan penumpukan tersebut.
Copyrights © 2023