Limbah kaleng bekas semakin meningkat karena adanya kemajuan teknologi, permasalahan limbah di Indonesia menyebabkan pencemaran lingkungan di sekitar masyarakat. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia mencatat bahwa produksi limbah di Indonesia mencapai 67,8 juta ton pada tahun 2020. Angka ini meningkat 1% dari tahun 2019 yang "hanya" mencapai 66-67 ton limbah. Sebanyak 9 juta ton dari keseluruhan limbah tersebut adalah limbah kaleng. Hasil observasi yang dilakukan terhadap masyarakat yang berdomisili di Desa Pulodarat Jepara, menunjukkan bahwa limbah kaleng yang dihasilkan rata-rata mencapai 1 (satu) kilogram per KK per hari. Upaya untuk meminimalisir dampak pencemaran lingkungan akibat limbah kaleng salah satunya adalah dengan cara mendaur ulang limbah tersebut menjadi produk kerajinan tangan yang mempunyai nilai jual dan memiliki nilai fungsi. Pada masa pandemi seperti saat ini, nilai jual dapat membantu perekonomian. Dalam pemanfaatan limbah kaleng dibutuhkan kreativitas untuk mengolah limbah kaleng menjadi hasil karya berupa hiasan dinding kaligrafi islam yang nantinya selain mengurangi limbah rumah tangga juga mampu meningkatkan profit (keuntungan). Nilai jual hasil karya berupa hiasan dinding kaligrafi tersebut tergantung hasil kreasi masing-masing masyarakat, semakin unik dan kreatif suatu hasil karya maka semakin tinggi nilai jualnya. Metode yang digunakan dalam penelitian mengenai pemanfaatan limbah botol kaleng adalah survey, wawancara, dan angket. Hasil dari pemanfaatan limbah botol kaleng menjadi kerajinan tangan berupa hiasan dinding kaligrafi islam untuk meningkatkan kreativitas serta keterampilan masyarakat di wilayah Di Desa Pulodarat Jepara.
Copyrights © 2021