Indonesia menduduki peringkat ke-17 di dunia dan peringkat teratas di Asia Tenggara sebagai negara yang tingkat polusi udaranya tertinggi, dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 34,3 μg/m3. Peningkatan konsumsi energi oleh industri menghasilkan emisi yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan pernapasan. PM2,5 lebih berbahaya bagi kesehatan dari pada PM10 karena ukurannya yang kecil dapat tersimpan dalam alveoli yang menyebabkan gangguan fungsi sistem imun. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian pencemaran udara seperti electrostatic precipitator (ESP). ESP sangat efektif sebagai pengandali partikulat yang berukuran ≤10 mikron. Tujuan penulisan makalah ini adalah mengkaji teknologi ESP. Metode yang digunakan adalah literatur review. ESP sudah banyak diterapkan di industri dalam mengolah partikulat karena efisiennya 75 hingga 99%. Prinsip utama sistem ESP adalah menangkap partikel padat yang keluar dari hasil pembakaran dengan cara memberikan arus listrik DCdan tegangan yang tinggi pada kawat elektroda bermuatan negatif. Proses ini menyebabkan partikulat tersebut bermuatan negatif dan terikat di plat yang bermuatan positif, sehingga gas buang yang lepas ke atmosfer bersih.
Copyrights © 2024