Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana makna “cantik itu luka” yang tidak sekadar mengacu pada konsep kecantikan secara fisik. Selain itu, tokoh-tokoh perempuan dalam novel Cantik Itu Luka berusaha menunjukkan kuasa atas dominasi yang membelenggunya. Melalui metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teori pascakolonial sebagai pisau analisisnya, hasil penelitian ini adalah konsep ‘cantik’ memiliki dual sign. Artinya, ‘cantik’ dalam novel ini mengacu pada dua pengertian. Pertama, cantik merupakan alegori dari sesuatu yang tidak berkaitan langsung dengan tubuh, tetapi realitas lain di luar itu, yaitu kecantikan alam yang ‘dilukai’ oleh kolonialisme. Kedua, cantik mengacu pada tokoh-tokoh perempuan cantik yang justru menjadi subaltern (manusia subordinat) dalam sistem masyarakat patriarki. Namun demikian, usaha tokoh-tokoh perempuan yang terdapat dalam novel ini, pada akhirnya masih mengacu pada standar patriarki dan standar kecantikan Barat (Eropa).
Copyrights © 2024