Pada dasarnya poliembrioni mempunyai sifat genetik yang sama dan dapat dipelihara menjadi tanaman yang produktif atau sama dengan bibit bertunas tunggal akan tetapi seringkali fenomena poliembrioni ini menjadi potensi masalah di lapangan. Kurangnya informasi dan tidak adanya pedoman khusus atau standard operating procedure (SOP) mengenai kecambah dan penanganan bibit poliembrioni menjadi dasar dalam penelitian ini. Metode yang digunakan yaitu analisa deskriftif dengan pengamatan terhadap parameter yaitu jumlah komposisi dan persentase poliembrioni kecambah, jumlah komposisi dan persentase politunas bibit kelapa sawit dan jumlah komposisi dan persentase polikernel 2 (Dua) varietas DxP Simalungun dan DxP PPKS 540. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya perbedaan jumlah persentase dari polikernel ke poliembrioni ke politunas terjadi karena adanya plumula yang muncul lebih banyak dari jumlah kernel yang ada dalam satu kecambah khususnya pada varietas DxP Simalungun.
Copyrights © 2024