Kebutaan merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan diperkirakan akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hemoglobin A1c (HbA1c) adalah komponen hemoglobin yang berikatan dengan glukosa dan dapat memprediksi penyakit mikrovaskuler pada pasien diabetes. HbA1c juga diharapkan dapat menjadi biomarker untuk Neuropati Optik Iskemik Anterior Anterior (NAAION) pada pasien sindrom metabolik (SM). Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara HbA1c dan NAAION. Penelitian ini melibatkan 45 pasien yang dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (15 pasien, 30 mata), kelompok pasien SM tanpa NAAION (15 pasien, 30 mata), dan kelompok pasien SM dengan NAAION (15 pasien, 22 mata). Evaluasi saraf optik meliputi retinal nerve fiber layer (RNFL) dari OCT, sensitivitas kontras dari tes Pelli Robson, dan penilaian cacat lapang pandang (VFD) dari perimetri Humprey. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Kruskal-Wallis dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar HbA1c berbeda secara signifikan di antara ketiga kelompok (p = 0,000). Kadar HbA1c rata-rata adalah 5,37% untuk kelompok kontrol, 6,75% untuk pasien MetS tanpa NAAION, dan 7,99% untuk pasien MetS dengan NAAION. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara HbA1c dan defek lapang pandang (p = 0,000, r = -0,568), dan antara HbA1c dan sensitivitas kontras (p = 0,000, r = -0,524). Akan tetapi, terdapat korelasi positif yang signifikan antara HbA1c dan RNFL.
Copyrights © 2024