Sosialisasi pemilu selama ini masih menggunakan model strategi yang sama untuk semua khalayak, baik para pemilih perkotaan maupuan masyarakat pedesaan. Padahal para pemilih memiliki karakteristik demografi, sosial ekonomi, budaya dan keunikan yang berbeda. Teridentifikasi kesulitan bagi para pemilih di kawasan pedesaan untuk menentukan hak pilih dalam pemilu karena keterbatasan informasi mengenai sistem dan teknis pemilihan kepala desa. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan para pemilih memutuskan untuk bersikap abai terhadap pemilu (golput) termasuk juga dalam kegiatan pemilihan kepala desa. Kegiatan ini dilakukan melalui kombinasi metode pendidikan masyarakat dan metode pelatihan. Metode Pendidikan dilakukan dengan metode sosialisasi pada masyarakat desa sehingga mereka bisa menerapkan pengatahuan tersebut dan menggunakan hak pilihnya. Sedangkan metode pelatihan yaitu metode kegiatan yang melibatkan substansi kegiatan yang disertai dengan demonstrasi atau percontohan untuk realisasinya. Dalam metode ini diberikan simulasi latihan mengenai kepemiluan sehingga para pemilih bisa menerapkan tata cara dan praktik pilkades secara lebih teknis. Para penduduk desa yang mengkuti kegiatan sangat antusias mendengarkan pelatihan yang disampaikan, hal ini terlihat dari banyaknya penduduk desa yang bertanya dan ingin mendapatkan penjelasan lebih mendalam tentang bagaimana cara memilih yang baik, termasuk memilih kandidat dalam pemilu.
Copyrights © 2024