Bambu betung (Dendrocalamus asper) dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi dan kerajinan mebel namun mempunyai daya tahan yang rendah dan rentan terhadap serangan organisme perusak sehingga dilakukan pengawetan. Daerah yang mempunyai potensi bambu tinggi adalah Kabupaten Ngada, NTT dan pelestariannya dikembangkan di Yayasan Bambu Lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan pengawetan antara metode liquid roof-larutan garam dan metode perebusan boraks melalui uji retensi dan perhitungan harga untuk mengetahui metode pengawetan mana yang lebih efisien dengan harga terjangkau. Analisis data menggunakan metode eksperimen dan uji Anova satu arah untuk uji retensi mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan perhitungan harga bambu awet untuk setiap metode pengawetan menggunakan perhitungan Harga Pokok Produksi. Hasil uji retensi dan perhitungan harga disajikan dalam bentuk tabel dan dilakukan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai retensi kedua metode pengawetan telah memenuhi SNI dengan hasil uji anova menunjukkan nilai retensi kedua metode pengawetan tidak berbeda nyata. Harga Pokok Produksi menunjukkan bahwa metode boraks memiliki harga jual bambu yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode larutan asap-garam cair
Copyrights © 2024