Teks Ronggha Sanghāra Bhumi, merupakan ajaran kepemimpinan (niti) dari Bhagawan Dharma Loka, yang diterima baginda raja Majapahit hingga di Bali. Teks berisi uraian tatkala bumi dalam keadaan kali yuga (sanghāra). Ditandai dengan kembalinya para dewata menuju alam surga (Mahameru). Digantikan atau dipenuhi sifat-sifat jahat (běbhutan) merasuk pada setiap pikiran manusia, sehingga dunia menjadi tidak menentu (roggha). Konflik (perang) berkepanjangan, di antara pemimpin (raja) saling hina dan bermusuhan, penyakit (sasab mrana) tiada hentinya, kematian mendadak dilanda muntaber, dan sejenisnya. Segala upaya pengobatan tradisional (usada) dan (japa mantra) telah dicoba namun tidak berhasil, wabah penyakit mendunia. Merebaknya berbagai penyakit di seluruh penjuru dunia, adalah akibat dewata luhuring akasa murka sehingga banyak manusia mati tidak tertolong. Seorang raja (pemimpin) akan tertimpa bahaya, ditandai dengan adanya salah wtu (manakan salah), salah rupa, salah prilaku, kebenaran terabaikan, raja dilecehkan, raja berbuat sewenang-wenang hingga rakyat menjadi sakit hati, dan seterusnya, menjadikan dunia ini rusak/hancur (sanghāra). Keadaan yang mengerikan itu bisa teratasi dengan cara menepi, mengurung diri di rumah, karena běbhutan sedang bergerak (apan běbhutan sděng lumaku) merasuki manusia di jagat raya ini. Selain itu, manusia mesti senantiasa berdoa kepada Sang Pencipta, melakukan upacara yajña mamarisudha bhumi, menggelar upacara pacaruan (menetralisir dunia beserta isinya) secara menyeluruh berlandaskan rasa bakti yang tulus ikhlas mohon perlindungan-Nya. Kata Kunci: roggha, sanghara, pamarisudha, dan yajña.
Copyrights © 2023