Konflik atau perselisihan ada dalam kehidupan gereja. Perbedaan latarbelakang kehidupan seseorang membuat pola pikir setiap orang berbeda-beda, dan memantik konflik. Untuk itu, gereja membutuhkan model penyelesaian konflik yang bisa mereka jadikan sebagai referensi. Dengan menggunakan metode kualitatitif secara deskriptif dan studi pustaka, tulisan ini melakukan analisis terhadap Kisah Para Rasul 15:35-41. Perselisihan yang terjadi antara Paulus dan Barnabas, ada dua model penyelesaian konflik yang bisa dijadikan sebagai referensi. Temuan pertama, pendisiplinan atau disiplin gerejawi merupakan cara yang dilakukan untuk menjaga kesucian gereja. Jemaat yang telah melakukan kesalahan sesuai dengan apa yang diperintahkan Alkitab harus menerima pendisiplinan agar mereka bisa kembali masuk dalam gereja. Paulus melihat tindakan Yohanes Markus harus diberikan sebuah pedisiplinan agar kedepannya ia tidak lagi mengulangi kesalahannya; dan Kedua, berbeda dengan Paulus, Barnabas menawarkan sebuah spiritualitas pengampunan dalam menyelesaikan masalah Yohanes Markus. Barnabas tahu akan keterbatasan manusia dan pasti tidak luput dari yang namanya kesalahan. Dengan adanya dua model ini, akan sangat membantu pemimpin gereja masa kini dalam melihat dan menyelsaikan masalah yang ada dalam gereja.
Copyrights © 2024