Pelaksanaan pendidikan inklusi sudah ada dalam kebijakan pemerintah yaitu dalam UU No 70 Tahun 2009, tetapi apakah semua sekolah sudah memenuhi kriteria ataupun prinsip dalam melaksanakan pendidikan inklusif jenjang PAUD. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena yang terjadi dalam implementasi pendidikan inklusi pada jenjang pendidikan anak usia dini. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel kepala sekolah dan guru di Kota Tasikmalaya. teknik pengumpulan data melalui survey dengan penyebaran kuisioner serta penggunaan wawancara tidak tersruktur dan observasi yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterpenuhan pelaksanaan pendidikan inklusi pada jenjang pendidikan anak usia dini di Kota Tasikmalaya. Teknik analisis statistik deskriptif yang digunakan adalah penyajian data dalam bentuk tabel atau distribusi frekuensi, tendensi sentra (mean, median, modus), dan penghitungan ukuran penyebaran. Sehingga hasil dapat mendeskripsikan persepsi guru, keterpenuhan sekolah dan memaparkan fasilitas pendukung pelaksaanaan pendidikan inklusi . Berdasarkan hasil penelitian survei yang dilakukan di 5 sekolah dan 36 guru menunjukan bahwa 79% guru mempunyai persepsi yang setuju, 58% kategori cukup dalam ketepenuhan implementasi sekolah dan 60% dalam kategori cukup untuk fasilitas. Persepsi dari guru sudah menunjukan adanya semangat dan persepsi yang baik terhdap implementasi pendidikan inklusi hanya saja dalam ketepenuhan sekolah dan fasilitas masih menjadi tantangan dan hambatan dalam pengimplementasian pendidikan inklusi.
Copyrights © 2024