Ketahanan pangan ditopang dari hasil produksi nasional (segar maupun olahan) dan produk impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Realitasnya produk pertanian lebih banyak dijual dalam bentuk segar akibat lemahnya proses manufaktur yang dipengaruhi jumlah industri pengolahan, investasi yang besar, keinginan untuk segera mendapatkan hasil, dan lemahnya adopsi teknologi. Sementara pemanfaatan hasil pangan sebagai input industri didominasi usaha besar (UB) dibandingkan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Produktivitas UMKM yang rendah akibat penguasaan teknologi yang lemah ditengarai penyebab utama backward linkage ke sektor pertanian cenderung lemah dibandingkan UB. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) sektor makanan minuman, lebih banyak mengadopsi teknologi digital dalam bentuk e-commerce dan pemasaran produk. Penelitian ini bertujuan untuk mendorong transformasi digital pada UMKM pengolahan makanan minuman (mamin) berbasis sumber daya lokal (pertanian) melalui pendekatan kelembagaan yang mensinergikan element research, innovation, learning, financing, dan marketing. Melalui pendekatan pentahelix, penelitian ini menghasilkan model kolaborasi antar pemangku kepentingan yang mewujudkan ekosistem adopsi teknologi dan framework adopsi teknologi digital yang dapat meningkatkan produktivitas UMKM makanan minuman yang mendukung pada ketahanan pangan nasional. Hasil penelitian menunjukkan industri 4.0 berpotensi diwujudkan pada UMKM dengan tingkat kesiapan digital level 4 yang diikuti dengan pendampingan dari komunitas UMKM.
Copyrights © 2023