Listrik adalah bagian dari perkembangan teknologi yang merupakan unsur penting dalam kehidupan kita sehingga mutu pendistribusian tenaga listrik sangat penting dijaga dalam menambahkan bentuk pelayanan terhadap kontribusi nyata kepada masyarakat dan menjaga kebutuhan akan energi listrik yang tumbuh cukup pesat. Salah satu indikator yang harus dijaga serta di perhatikan kualitas dari jaringan adalah menurunnya tegangan listrik yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat. Drop tegangan dapat diakibatkan oleh beberapa faktor teknis dan faktor non-teknis. Faktor teknis seperti jarak tempuh pusat beban dengan sumber pusat listrik relative jauh yang mengakibatkan terganggunya tegangan pada ujung saluran sehingga mengalami penurunan. Nilai toleransi jatuh tegangan yang diatur dalam SPLN adalah senilai +5% dan -10% untuk jaringan distribusi dengan nominal tegangan 20 kV (SPLN 1/1995). Gardu Induk Blang Pidie terletak Di wilayah Aceh, dimana GI tersebut menyuplai 3 (Tiga) Unit Layanan Pelanggan antara lain ULP Blang Pidie dengan jarak 5,1 kM, ULP Labuhan Haji dengan Jarak 31 kM serta ULP Tapak Tuan dengan Jarak 80 kMS. Dengan jarak yang cukup jauh dari GI Blang Pidie dengan ULP Tapak Tuan mengalami penurunan tegangan yang terima di Gardu Hubung ULP Tapak Tuan sebesar 18 kV. Metode yang dilakukan untuk menaikkan tegangan yang diterima di Tapaktuan dengan mengoperasikan mesin diesel Pembangkit Litrik Tenaga Diesel (PLTD) Tapak Tuan untuk Singkron Sistem GI Blang Pidie untuk menaikkan tegangan di ULP Tapaktuan. Program dedieselisasi merupakan bagian dari dukungan pelaksanaan kegiatan G20 Presidensi Indonesia untuk mengalihkan atau mengurangi semua pembangkit listrik tenaga berbasis fosil secara bertahap. Dengan adanya program tersebut maka perlu dilakukan upaya untuk mengurangi pengoperasian dalam pemakaian Solar BBM PLTD dengan mempertimbangkan dampak terjadi Drop Tegangan.
Copyrights © 2024