Krisis air bersih dan air minum di 8 provinsi di Indonesia akibat kekeringan memunculkan kebutuhan akan solusi alternatif. Indonesia memiliki puncak intensitas hujan tertinggi pada Januari mencapai >700 mm rata-rata. Potensi air hujan yang besar ini menjadi peluang untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau dengan mengubah air hujan menjadi sumber air minum menggunakan alat pemamen air hujan menjadi air minum. Untuk memastikan air minum yang dihasilkan memenuhi standar, penelitian ini bertujuan untuk menilai kecocokan air berdasarkan variabel pH, TDS, dan tingkat kekeruhan dengan menggunakan sistem keputusan fuzzy Tsukamoto. Fuzzy logic memungkinkan penggunaan himpunan nilai linguistik yang dapat memodelkan informasi berbasis kondisi kabur atau tidak pasti dari parameter air. Sistem yang dibuat memanfaatkan beberapa jenis sensor, di antaranya sensor pH yang menunjukkan tingkat keakuratan sebesar 98,24%, sensor TDS dengan tingkat keakuratan sebesar 92,01%, dan sensor kekeruhan Analog Turbidity Sensor yang memiliki tingkat keakuratan sebesar 64,67%. Ketiga sensor tersebut mengumpulkan informasi terkait air yang kemudian diolah melalui pendekatan fuzzy Tsukamoto, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia guna menentukan kualitas air yang layak. Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa metode fuzzy Tsukamoto memiliki akurasi sebesar 60% dalam menilai kelayakan air untuk konsumsi.
Copyrights © 2024