Belanja online menjadi salah satu tren saat ini karena mendukung minat beli konsumen dengan menawarkan persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan keamanan transaksi. Kemajuan teknologi informasi telah secara signifikan mengubah pola konsumsi masyarakat, termasuk dalam belanja kebutuhan sehari-hari melalui platform digital. Sekitar 13,65% orang di Indonesia terbiasa melakukan pembelanjaan bulanan rumah tangga melalui e-commerce, dengan 21,98% di antaranya memilih Alfagift. Alfagift telah mengadaptasi konsep supermarket tradisional secara online, namun terungkap beberapa analisis sentimen negatif di Google Play, mencakup masalah error dalam pembayaran, ketersediaan produk yang tidak konsisten, kurang responsifnya customer service, dan keterlambatan refund. Hal tersebut berdampak pada perilaku pembelian pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM terhadap 120 responden di Kota Malang untuk menguji penerimaan aplikasi Alfagift terintegrasi pembayaran digital menggunakan model UTAUT 2. Kota Malang dipilih karena layanan Alfagift masih baru sehingga diperlukan analisis penerimaan untuk meningkatkan adopsi pengguna. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel Social Influence, Facilitating Conditions, Price Value, dan Habit berpengaruh signifikan terhadap minat penggunaan aplikasi Alfagift, sementara variabel Performance Expectancy, Effort Expectancy, dan Hedonic Motivation tidak berpengaruh signifikan. Di sisi lain, variabel Habit dan Behavioral Intention berpengaruh signifikan terhadap perilaku penggunaan aplikasi secara rutin, sedangkan variabel Facilitating Conditions tidak berpengaruh signifikan.
Copyrights © 2024