Disamping pendekatan Bahasa, Syahrur melakukan metode yang berbeda ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang ia sebut dengan metode tartil, yang dapat diidentikkan dengan metode intertekstualitas. Intertekstualitas diadobsi dari istilah intertekstualitas yang berarti hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks yang lain. Intertekstualitas adalah mengumpulkan dan mengurutkan ayat-ayat yang setema kemudian merunutkan beberapa ayat di belakang ayat yang lain untuk menemukan sebuah konsep pemahaman komprehensif. Sekilas, metode ini mirip dengan metode tematik (maudhu’i). Melalui pendekatan analisis deskriptif, artikel ini mengungkap konsep Intrertekstualitas Syahrur, bagaimana model pengaplikasian tawaran metode Syahrur Intertekstualitas -nya terhadap kajian al-Qur`an, khusunya konsep aurat Hasil penelitian ini menunjuk konsep Intrertekstualitas Syahrur dengan mempertemukan ayat-ayat menggunakan pendekatan semantik dengan analisa paradigmatis dan sintagmatis. Terkait dengan aplikasi metode ini pada konsep aurat bersumber dari Q.S. an-Nur ayat 31, bahwa Syahrur menyimpulkan bahwa aurat tidak ada hubungannya dengan halal dan haram dan aurat dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat tersebut. Menurut Shahrur, aurat berasal dari konsep malu (alhaya`). Rasa malu ini relatif, dinamis (Flexible) dan bersifat adaptif
Copyrights © 2023