Kapal, sebagai alat transportasi, memiliki keunggulan dalam kapasitas muatan yang lebih besar dibandingkan jenis transportasi lainnya. Salah satu klasifikasi kapal yang mendukung transhipment muatan adalah kapal crane terapung, dilengkapi dengan derek crane. Perawatan dan pemeliharaan crane menjadi krusial agar kapal dapat melakukan kegiatan bongkar muat dengan optimal di tengah laut atau muara sungai. Namun, seringkali terjadi kerusakan mendadak pada mesin crane akibat perawatan yang tidak optimal. Pada saat transhipment di laut, kerusakan mesin crane dapat menyebabkan berhentinya kegiatan muat. Kurangnya perawatan yang berkelanjutan dapat berujung pada kecelakaan kerja dan menurunkan kinerja crane, memengaruhi target perusahaan. Terlambatnya ketersediaan critical spare part di atas kapal juga menjadi hambatan dalam perawatan rutin, menyebabkan keterlambatan pemindahan muatan, tambahan biaya, dan kesan negatif dari pencharter. Keterbatasan sertifikasi teknisi crane operator dan kekurangan operator berpengalaman di atas kapal merupakan tantangan lain. Tanpa sertifikasi teknisi, penanganan masalah mesin crane terhambat. Selain itu, adanya operator crane trainee yang kurang terampil dapat memperlambat operasi transhipment dan menimbulkan keluhan dari stevedoring. Kesimpulannya, kerusakan mesin crane disebabkan oleh perawatan berkala yang kurang baik dan kurangnya operator berpengalaman. Solusinya adalah melaksanakan perawatan berkala sesuai dengan Planned Maintenance System (PMS) dan meningkatkan pemahaman operator tentang prosedur pengoperasian. Keterlambatan ketersediaan spare part dapat diatasi dengan dukungan perusahaan dalam pengadaan, serta pengiriman yang lebih awal. Manajemen suku cadang perlu diperbaharui agar lebih teratur.
Copyrights © 2023