Pencegahan rehospitalisasi terkait PPOK merupakan prioritas di dunia untuk memperlambat progresi penyakit. Pengontrol gejala PPOK yaitu kombinasi ICS/LABA sering digunakan, diantaranya adalah inhalasi budesonid/formoterol fumarat dan flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian inhalasi budesonid/formoterol fumarat terhadap kejadian rehospitalisasi pasien terkait PPOK dalam 6 bulan jika dibandingkan dengan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif ini mengggunakan sampel data RM pasien post-ranap RS Paru Respira periode KRS 1 Januari 2019-31 Desember 2020. Pengaruh penggunaan kedua obat inhalasi terhadap kejadian rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan setelah KRS dianalisis dengan survival analysis Kaplan-Meier test. Pengaruh variabel perancu terhadap outcome dianalisis dengan Cox Proportional Hazard Model. Pada penelitian diperoleh sebanyak 190 sampel yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok inhalasi Bud/Form (n=95) dan kelompok inhalasi FP/Salm (n=95). Hasil survival analysis menunjukkan persentase yang lebih besar pada inhalasi Bud/Form (87,4%) dibanding pada inhalasi FP/Salm (83,2%) namun tidak berbeda bermakna (p value 0,442). Analisis multivariat dengan melibatkan pengaruh variabel perancu menunjukkan penurunan hazard namun tidak bermakna pada penggunaan inhalasi Bud/Form dibanding FP/Salm (HR 0,689; 95% CI 0,313-1,517; sig. 0,355). Sebagai kesimpulan, persentase ketahanan terhadap rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan pada penggunaan inhalasi budesonid/formoterol fumarat lebih besar dibanding pada penggunaan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat tanpa beda bermakna. Kedua sediaan inhalasi ICS/LABA tersebut tetap dapat direkomendasikan sebagai terapi pengontrol pada pasien dengan PPOK.
Copyrights © 2023