Masyarakat dan keluarga merupakan bagian tak terpisahkan dengan difabel, namun penerimaan atas keberadaannya masih diperdebatkan. Pemerintah mengatur pemenuhan hak-haknya difabel sebagai warga negara. Ketunaan memerlukan bantuan sosial untuk mengembangkan dirinya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi kasus atas kajian tentang ketunaan dan teologi Kristen, penulis melakukan kunjungan serta observasi dan wawancara terbuka pada informan di Sekolah Dwituna Rawinala Jakarta Timur. Sekolah Rawinala memberikan kesempatan pada masyarakat yang untuk  diasuh tanpa membedakan agama maupun status sosial. Anak dalam keluarga Kristen dimaknai sebagai Anugerah Tuhan bagaimanapun keberadaanya, keadaan fisik dan mentalnya, serta difabel ataupun normal. Hasil penelitian bahwa dwituna Rawinala sebanyak 55 orang, disekolahkan, dititip oleh keluarga untuk diasuh sesuai dengan ketunaan utamanya pada indra penglihatan, namun juga memiliki ketunaan lainnya atau majemuk (Multiple Disabilities VisualyImpairment (MDVI)). Panggilan pelayanan sekolah rawinala untuk mendidik dan mengasuh secara spesifik, profesionalitas dari pendidik, secara teologi Kristen panggilan Allah untuk mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan. lingkungan belajar yang inklusif dapat menumbuhkan kecakapan hidup dwituna. Kecakapan dwituna berupa membaca dengan bantuan alat, komunikasi dengan bahasa isyarat, bernyanyi,bermain musik dan mandiri dalam hidup keseharian.
Copyrights © 2023