The practice of underage marriage still occurs in Indonesia, particularly in rural and remote areas. One of the efforts to prevent underage marriage is to provide strengthened pre-marital counseling to teenagers and future husband and wife, in that awareness and understanding of the importance of maturity at marriage, mental maturity and readiness to face and carry out marriage are built. This service has been conducted at Larangan Slampar village, Tlanakan District and Tanjung village, Pademawu District, Pamekasan Regency by implementing a CBPR (Community Based Participatory Research) approach. The CBPR approach emphasizes collaboration with stakeholders in related areas, starting from planning and implementing carefully structured actions. The results of strengthening premarital counseling attracted the participants' attention because they felt comfortable telling stories, asking questions, and at the same time gaining knowledge about the substance of marriage, which up to now had been understood as a simple thing without a solid foundation. The participants, finally, are able to plan their future by implementing profound planning in deciding their marriage plan. [Praktik perkawinan di bawah umur masih marak terjadi di Indonesia, khususnya di pedesaan dan wilayah terpencil. Salah satu upaya pencegahan perkawinan di bawah umur adalah dengan memberikan penguatan konseling pra nikah kepada remaja dan calon pengantin, sehingga terbangun kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya kematangan usia nikah, kematangan mental, dan kesiapan dalam menghadapi dan menjalankan perkawinan. Pengabdian ini dilakukan di Desa Larangan Slampar kecamatan Tlanakan dan desa Tanjung Kecamatan Pademawu, kabupaten Pamekasan dengan menggunakan pendekatan CBPR (Community Based Participatory Research). Pendekatan CBPR menekankan kolaborasi dengan stakeholder di daerah terkait, mulai dari merencanakan dan melaksanakan aksi yang disusun secara matang. Hasil penguatan konseling pra nikah ini cukup menarik perhatian peserta karena mereka merasa nyaman bercerita, bertanya, dan sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang substansi perkawinan yang selama ini dipahami sangat sederhana tanpa landasan yang kokoh. Peserta pada akhirnya mulai memproyeksikan masa depannya dengan menggunakan perencanaan dalam memutuskan dan menjalankan perkawinan.]
Copyrights © 2024