Kitab kuning adalah tradisi Islam yang harus dipelihara, artikel ini mendiskusikan bagaimana seharusnya kitab kuning menjadi landsasan dalam pendidikan karakter nasional kedua bagaimana tokoh-tokoh kitab kuning nusantara dapat menjadi idola generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kitab kuning dalam apresiasi kritis seharusnya kitab kuning dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan nasional termasuk dalam pembentukan karakter. Penelitian Syaifullah yusuf dan Imawan mengkaji tentang kitab kuning dan pembentukan karakter religius Muslim Indonesia. Yusuf dan Imawan melakukan kajian lapangan tentang nilai-nilai karakter religius dalam kitab kuning bagaimana kitab kuning dapat menjadi landasan dalam pembentukan karakter muslim di Indonesia melalui pembelajaran kitab kuning. Misalnya kitab kuning Ta’lim al-Muta’allim berpengaruh dalam pembentukan nilai-nilai karakter religius muslim Indonesia. Nilai-nilai karater tersebut antara lain; (1) menjaga ilmu, (2) menghormati guru dan teman, (3) memuliakan kitab, rajin belajar dan beribadah, (4) menghindarkan sifat sombong dan merendahkan orang lain, (5) sabar dalam belajar dan diskusi, (6) integritas (menjunjung tinggi nilai kejujuran), dan (7) bertanggungjawab. Kemudian bagaimana melanjutkan tradisi keislaman dalam penulisan kitab dapat dipelihara oleh generasi selanjutnya, mengutip laporan penelitian Zaini Dahlan tentang apresiasi kritisnya terhadap kitab kuning. Dengan mengemukakan tiga contoh pada abad ke-20 yang menulis Kitab Kuning. Yaitu Ahmad Khatib Minangkabau dan Kyai Mahfuz Termas (w. 1919-20), dan tokoh ketiga adalah Muhammad Hasyim Asy ̒ari (1287-1366/1870-1947). Beliau adalah tokoh pendiri Nahdhatul Ulama yang mengelola sejumlah besar pesantren. Ketiga tokoh tersebut adalah tokoh dalam karya kitab kuning di Nusantara yang menajadi contoh generasi berikutnya.
Copyrights © 2024