Kegiatan penggalian dan dewatering yang dilakukan di kawasan perkotaan menghadapi tantangan akibat keberadaan airtanah. Airtanah yang tidak dikontrol dapat mengganggu kestabilan bangunan-bangunan bersejarah dan penting yang berada di sekitar lokasi penggalian. Lokasi kegiatan penggalian dan dewatering berada di Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, yang dilakukan untuk konstruksi dua stasiun bawah tanah MRT yang berjarak 800 m. Lokasi ini berada di Cekungan Airtanah Jakarta dengan litologi penyusun berupa endapan kipas aluvium dengan material butir berukuran lempung hingga pasir sendang berumur Kuarter. Kegiatan dewatering dilakukan dengan menggunakan sumur pelepasan tekanan (pressure relief well) sebanyak 46 sumur di Stasiun Bawah Tanah A dan 29 sumur di Stasiun Bawah Tanah B dengan kapasitas 4,15 m³/s per sumur . Simulasi airtanah dilakukan menggunakan Softwater Visual Modflow dengan metode numerik beda hingga berdasarkan beberapa asumsi untuk menyederhanakan pembuatan model airtanah. Pemantauan respon airtanah dilakukan dengan pengamatan terhadap perubahan head dan drawdown selama 1186 hari. Pada lokasi Stasiun Bawah Tanah A, terjadi penurunan head (drawdown) sebesar 3,1 m, sedangkan pada Stasiun Bawah Tanah B terjadi drawdown sebesar 5,5 m. Pengaruh dewatering dapat terlihat hingga jarak 550 m dengan drawdown sebesar 1- 8 cm.
Copyrights © 2024