Quovadis Toraja dalam penciptaan karya ini menguraikan tentang penyajian gerak hewan Babi yang digambarkan berupa sifat babi yang rakus dalam memakan apapun itu dan juga menggambarkan secara singkat bentuk fisik dari hewan Babi tersebut. Menggambarkan secara singkat tentang kegelisahan yang akan dialami sekarang dan nanti kedepannya dengan menampilkan beberapa gerakan-gerakan bingung dan mencari cari dimana dan bagaimana sebenarnya kebenaran itu.Penggambaran secara imajiner ini dapat membuat posisi sebenarnya dimana penari ini berada dan sedang berada didalam titik gelisah dan dilema. penggambaran klimaks dari film tari ini dimana adegan ini terdapat konflik batin yang dihadirkan antara hati dan realita bertolak belakang. Disisi ini konflik kepercayaan yang tidak diyakini mendatangkan dampak yang kurang baik sehingga menimbulkan rasa resah dan dilema secara berkepanjangan dan tidak memperoleh kesembuhan atas apa yang diinginkan.Metode yang digunakan pada penciptaan ini adalah Roland Barthes Roland (1985) berpendapat bahwa di dalam teks setidak-tidaknya beroperasi lima kode pokok (cing codes) yang di dalamnya terdapat penanda tekstual (baca: leksia) yang dapat dikelompokkan. Setiap atau tiap-tiap leksia dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kode ini. Kode sebagai suatu sistem makna luar yang lengkap sebagai acuan dari setiap tanda, menurut Barthes terdiri atas lima jenis kode, yaitu kode hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proaretik (logika tindakan), kode gnomik (kode kultural).Proses penciptaan karya ini bertujuan untuk menghasilkan film tari yang dapat menggambarkan kegelisahan dari karya Quovadis ini. Dengan konsep film tari ini dapat memudahkan para pembuat film dan koreografer dalam berkarya lebih aktif dan dikomunikasikan dengan berbagai media baru sehingga mampu menciptakan berbagai bentuk ekspresi lain.
Copyrights © 2024