Serat Cebolek adalah salah satu karya yang luar biasa karya dari pujangga Keraton Surakarta, yaitu Raden Ngabehi Yasadipura I. Serat Cebolek berisi tentang pertentangan antara Haji Mutamakkin dan Ketib Anom. Haji Mutamakkin adalah yang tokoh kontroversial, beliau adalah seorang ulama yang berasal dar pesisir utara Jawa dan didakwa telah mengajarkan ilmu hakikat kepada khalayak ramai tanpa bersandar pada syariat. Atas dasar inilah perkumpulan para ulama yang dipimpin oleh Ketib Anom melaporkan kejadian ini kepada raja Kartasura agar Haji Mutamakkin diberikan hukuman mati. Dalam Serat Cebolek, Ketib Anom digambarkan sebagai seorang guru yang bijaksana, sedangkan Haji Mutamakkin digambarkan sebagai seorang guru yang tidak tahu diri. Hal inilah yang menjadi menarik untuk dikaji dengan melihat bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap muridnya menurut etika Jawa milik Franz Magnis Suseno. Etika adalah salah satu cabang dari ilmu filsafat yang mempelajari mengenai manusia dari sudut perbuatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan mengkaji dari sumber tertulis maupun buku yang masih relevan membahasa tentang Serat Cebolek. Hasil penelitian ini memandang bahwa kaitannya dengan nilai-nilai etika dalam berperilaku, seorang guru harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi dan menjadi pribadi yang bijaksana agar dapat menuntun murid-muridnya mendapatkan ilmu pengetahuan yang jauh di atasnya. Sedangkan, guru yang tidak tahu diri adalah guru yang merasa dirinya memiliki ilmu yang melimpah, merasa dirinya paling hebat, dan angkuh dalam bersikap dan berkata-kata.
Copyrights © 2023