Yantari, Hanif Fitri
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

LEARNING FROM HISTORY: PAKU BUWANA II'S ATTEMPT AT RELIGIOUS MODERATION IN SERAT CEBOLEK Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri; Taufiq, Muhammad
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 22 No 1 (2024): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 22 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/jlka.v22i1.1203

Abstract

Indonesia is home to teachings and manuscripts that advocate mode­­ration in life. One such cultural manifestation is the Serat Cebolek manuscript, written by Yasadipura I. This manuscript narrates the theolo­gical conflict between Hajj Mutamakkin and Ketib Anom. The objective of this article is to examine the efforts towards religious moderation undertaken by Sunan Paku Buwana II, as depicted in the Serat Cebolek manuscript. This study employed library research, utilizing a biographical approach. Data was collected through documentation techniques, drawing from printed sources and texts pertaining to Serat Cebolek. The study reveals that Paku Buwana II’s decision to forgive Haji Mutamakkin exemplifies the characters of a moderate leader. The king pardoned Haji Mutamakkin’s actions, albeit with the stipulation that he refrain from disseminating his knowledge among the kingdom’s populace. In the context of Javanese ethical values, Sunan Paku Buwana epitomizes a “Ratu Adil” or a just ruler. This study reinforces the discourse on religious moderation, particularly through an exploration of historical contexts. The king’s attitude serves as a valuable exemplar for contemporary leaders grappling with the issue of religious fundamentalism in Indonesia.
RANCANG–BANGUN PENDIDIKAN ANTI RADIKALISME: INTERNALISASI SIKAP TOLERANSI DI LEMBAGA PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
Jurnal Perspektif Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Perspektif
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53746/perspektif.v17i1.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat menganalisis serta memberikan kerangka pikir program pendidikan anti radikalisme di lembaga pendidikan formal di Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian yang diterapkan dalam riset ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menerapkan pendekatan studi kepustakaan. Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan metode kesinambungan historis dan hermenutika. Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa Wacana intoleransi dalam lembaga pendidikan dikarenakan sebuah lembaga pendidikan mengadopsi model pendidikan luar negeri yang menjadikan paham radikalisme sebagai basis keilmuannya. Selain itu juga disebabkan karena lembaga pendidikan hanya fokus melakukan pengajaran secara tekstual-skriptualistik. Provinsi Jawa Tengah sendiri telah menyusun program “Sekolah Damai” sebagai upaya internalisasi konsep toleransi dalam lingkungan sekolah. Program ini memiliki tiga basis utama yaitu: kebijakan sekolah yang pro toleransi, praktik perdamain di sekolahan, dan manajemen organisasi kesiswaan yang toleran.
Nilai Aksiologis Pernikahan Jilu Pada Masyarakat Jawa Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
Jurnal Dialog Vol 46 No 2 (2023): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v46i2.684

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang nilai di balik mitos yang direpresentasikan oleh masyarakat Dusun Tempursari sebagai mitos pernikahan Jilu. Masyarakat Jawa dikenal dengan penduduknya yang menjaga tradisi leluhur, pernikahan adalah salah satunya. Penelitian ini menjabarkan dua hal pokok, yaitu gambaran umum mengenai mitos pernikahan Jilu di Dusun Tempursari dan bagaimana etika Jawa dalam memandang fenomena ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi lapangan. Sumber data penelitian ini adalah tokoh masyarakat dan pasangan Jilu, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari literatur lain, seperti buku, jurnal, serta artikel yang sesuai dengan tema penelitian. Setelah itu dianalisis menggunakan teori Etika Jawa Franz Magnis Suseno. Berdasarkan dari hasil analisis didapati bahwa masyarakat Dusun Tempursari dalam kesehariannya masih tetap menghindari mitos pernikahan Jilu. Selain itu masyarakat yang menghindari larangan dikarenakan mematuhi perintah orang tua dan tidak ingin merusak kedamaian masyarakat setempat. Hal ini selaras dengan pendapat Franz Magnis bahwa prinsip kerukunan memainkan peran penting dalam kehidupan orang Jawa. Melalui prinsip kerukunan ini Suseno membagi orang menjadi manusia bodoh dan manusia bijaksana. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tempursari adalah manusia bijaksana karena memilih menjalankan mitos Jilu untuk menjaga keselarasan sosial dan mencegah terjadinya konflik-konflik sosial yang mungkin saja bisa terjadi. Abstract This study discusses the value behind the myth of Jilu's wedding. Javanese people are known for their inhabitants who uphold the traditions of their ancestors, marriage is one of them. This research describes two main things, namely a general description of the myths of Jilu's wedding and how Javanese ethics in viewing this phenomenon. This research is a qualitative research. After that it was analyzed using Javanese ethical theory Franz Magnis Suseno. Based on the results of the analysis, it was found that the people of Tempursari village in their daily lives still avoid the myths of Jilu's wedding. In addition, people who avoid the prohibition are due to complying with parents' orders and don’t want to damage the peace of the local community. This is in line with Franz Magnis's opinion that the principle of harmony plays an important role in the lives of Javanese people. Through this principle of harmony, Suseno divides people into stupid and wise humans. This phenomenon shows that the people of Tempursari village are wise humans because they choose to carry out the myths of the Jilu to maintain social harmony and prevent social conflicts that might occur.
Ketib Anom: Etika dan Kepribadian Guru Bijaksana dalam Serat Cebolek Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
PUSAKA Vol 11 No 2 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v11i2.1243

Abstract

Serat Cebolek adalah salah satu karya yang luar biasa karya dari pujangga Keraton Surakarta, yaitu Raden Ngabehi Yasadipura I. Serat Cebolek berisi tentang pertentangan antara Haji Mutamakkin dan Ketib Anom. Haji Mutamakkin adalah yang tokoh kontroversial, beliau adalah seorang ulama yang berasal dar pesisir utara Jawa dan didakwa telah mengajarkan ilmu hakikat kepada khalayak ramai tanpa bersandar pada syariat. Atas dasar inilah perkumpulan para ulama yang dipimpin oleh Ketib Anom melaporkan kejadian ini kepada raja Kartasura agar Haji Mutamakkin diberikan hukuman mati. Dalam Serat Cebolek, Ketib Anom digambarkan sebagai seorang guru yang bijaksana, sedangkan Haji Mutamakkin digambarkan sebagai seorang guru yang tidak tahu diri. Hal inilah yang menjadi menarik untuk dikaji dengan melihat bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap muridnya menurut etika Jawa milik Franz Magnis Suseno. Etika adalah salah satu cabang dari ilmu filsafat yang mempelajari mengenai manusia dari sudut perbuatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan mengkaji dari sumber tertulis maupun buku yang masih relevan membahasa tentang Serat Cebolek. Hasil penelitian ini memandang bahwa kaitannya dengan nilai-nilai etika dalam berperilaku, seorang guru harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi dan menjadi pribadi yang bijaksana agar dapat menuntun murid-muridnya mendapatkan ilmu pengetahuan yang jauh di atasnya. Sedangkan, guru yang tidak tahu diri adalah guru yang merasa dirinya memiliki ilmu yang melimpah, merasa dirinya paling hebat, dan angkuh dalam bersikap dan berkata-kata.
Wacana Moralitas dalam Serat Wulang Sunu dan Refleksinya Terhadap Pendidikan Karekter Yantari, Hanif Fitri; Permadi, Danur Putut
PUSAKA Vol 12 No 1 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i1.1473

Abstract

Persoalan moralitas generasi muda menjadi masalah utama bangsa kita saat ini. Anak-anak muda semakin mengalami degradasi kesopanan dalam berperilaku. Untuk itulah diperlukan satu upaya pendidikan karakter bagi generasi muda. Tetapi berbagai upaya pendidikan karakter yang selama ini dilakukan, tidak memberikan dampak yang signifikan. Oleh karena itulah dibutuhkan metode lain dalam proses pendidikan karakter, salah satunya adalah dengan mengkaji kebudayaan lokal. Salah satu karya sastra Jawa klasik yang mengusung tema pendidikan karakter adalah Serat Wulang Sunu yang disusun oleh Sunan Pakubuwana IV. Hal inilah yang menjadikan penelitian ini menarik untuk dikaji dengan melihat bagaimana sebuah kebudayaan klasik dapat memberikan nuansa baru dalam proses pendidikan karakter apabila ditinjau melalui konsep etika Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pendidikan karakter yang terkandung dalam Serat Wulang Sunu serta merefleksikan pendidikan karakter masa kini. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan mengkaji secara mendalam sumber tertulis yang masih relevan mengenai naskah Serat Wulang Sunu. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter setidaknya harus mengandung dua prinsip tata nilai yaitu prinsip hormat dan prinsip kerukunan. Prinsip hormat dalam pendidikan karakter yang terkandung di Serat Wulang Sunu ditunjukkan dengan nasehat untuk selalu berbakti dan larangan melawan kepada orang yang lebih tua. Prinsip kerukunan dalam pendidikan karakter yang terkandung di Serat Wulang Sunu diperlihatkan dengan adanya petuah untuk tetap menjaga hubungan baik dengan saudara kita. Melalui implementasi dua prinsip ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya pendidikan karakter yang efektif untuk mengatasi masalah moralitas anak muda.
INTERNALISASI MODERASI BERAGAMA DALAM KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SDN 02 GEMPOLAN KECAMATAN KERJO KABUPATEN KARANGANYAR JAWA TENGAH MELALUIBUDAYA SEKOLAH Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
EDUCANDUM Vol 10 No 1 (2024): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v10i1.1364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum merdeka belajar di SD Negeri 02 Gempolan Kabupaten Karanganyar. Lokasi ini dipilih karena Karanganyar menjadi daerah dengan tingkat partisipasi pendidikan terbesar kedua Jawa Tengah di tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus di SD Negeri 02 Gempolan. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menemukan SD Negeri 02 Gempolan telah menerapkan kurikulum merdeka secara bertahap dari tahun 2022, dan pada semester ganjil 2023 semua kelas kecuali kelas tiga dan enam telah menerapkan kurikulum merdeka. Proses internalisasi moderasi beragama melalui budaya sekolah dilakukan dengan menerapkan tiga cara yaitu: integrasi nilai-nilai moderasi beragama ke dalam mata pelajaran keterkaitan, menjalankan kegiatan penguatan berbagai agenda moderasi beragama, serta menerapkan insersi moderasi keberagamaan melalui kegiatan pembiasaan. Integrasi ke dalam mata pelajaran yang masih terkait tersebut dilakukan dengan menyisipkan materi nilai-nilai moderasi beragama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, serta mata pelajaran Ilmu Pendidikan Alam dan Sosial. Penguatan agenda moderasi beragama dengan upaya menerapkan kegiatan hafalan ayat Al-Qur’an secara berkelompok, melakukan kegiatan pesantren kilat. Insersi melalui pembiasaan dijalankan kegiatan pembiasaan kegiatan sholat dhuha berjamaah, pengucapan salam ketika masuk maupun keluar kelas, menyapa teman baik di dalam maupun di luar kelas.
The Changing Significance of the Gerebeg Maulid Tradition: An Examination of Its Socio-Economic Impact in Indonesia Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/6qy79d79

Abstract

The tradition of Grebeg Maulid in Yogyakarta plays a significant role within Indonesian Musim society. It is not just a cultural identity with significances of religiosity, but also a multifaceted socio-economic phenomenon. The aim of this study is to explore how the Muslim society perceives this heritage, specifically within the socio-economic context. The study employed qualitative research methodology, utilizing observation and interviews to collect data from informants who are actively engaged in the practice. The findings indicated that Grebeg Maulid serves not only as a platform for religious expression, but also as a catalyst for economic endeavors and touristic aspects. Its economic impacts are clearly identified through the numerous business transactions that take place during the event, providing a boost to the local tourism industry. However, the commercialization of this tradition has changed its meaning, with economic values overshadowing its religious significance. In a nutshell, the significance of Grebeg Maulid has undergone a significant change within Javanese Muslim culture. It has evolved beyond being solely a celebration of the Prophet Muhammad's birth and now serves as a hub for tourism and commercial endeavors in the community. Tradisi Grebeg Maulid di Yogyakarta dalam kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia, tidak hanya sebagai simbol budaya dengan makna religius, tetapi juga sebagai fenomena sosial ekonomi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemaknaan masyarakat Muslim terhadap tradisi ini, khususnya dalam konteks sosial ekonomi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, adapun pengumpulan data melalui proses observasi dan wawancara dengan informan yang terlibat dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grebeg Maulid tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan keberagamaan, tetapi juga sebagai sarana untuk aktivitas ekonomi dan pariwisata. Dimensi ekonomi dalam tradisi ini tercermin dalam bentuk transaksi ekonomi yang terjadi selama acara dan memberi dampak positif terhadap industri pariwisata setempat. Meskipun demikian, keberadaan dimensi ekonomi ini telah menggeser makna sakralitas tradisi tersebut, kebutuhan akan nilai ekonomi menjadi lebih dominan dibandingkan dengan makna religious yang melekat dalam tradisi Grebeg Maulud. Dengan kata lain, Grebeg Maulid telah mengalami transformasi makna yang signifikan bagi masyarakat Muslim Jawa, tidak lagi hanya sebagai pengingat kelahiran Nabi Muhammad, tetapi juga sebagai objek wisata dan ekonomi masyarakat.
MELIHAT HIPERREALITAS GENERASI Z DAN PERAN PENTING AGAMA SEBAGAI KONTROL SOSIAL Permadi, Danur Putut; Yantari, Hanif Fitri
Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ajipp.v4i2.7585

Abstract

This research aims to trace the forms of hyperreality that occur in generation Z and analyze the position of religion in addressing generation Z's problems. This research is motivated by the social changes of the generation Z. As a generation born and grows in the digital age, often generation Z chooses "life" in the social media world by prioritizing brands. The impact that will be caused by this hypperreality world is a consumptive generation. The data collection method in this study uses the documentation method. From the results of the study it was found that the form of hyperreality that occurred in generation Z included in the world of fashion they prioritized the name of the brand. The name of the brand plays an important role in constructing people's views on them. Besides that, other forms of hyperreality among generation Z are that they use social media as primary needs. Social media actually becomes a place where the young world is. In such conditions religion has a central role as a guide for generation Z to not be compatible and excessive in living life.