Tulisan ini bertujuan untuk melihat Religious Engagement dan Dialog agama dalam ritual kematian orang Toraja, yaitu Rambu Solo. Tulisan merupakan kritik terhadap dialog agama yang dilakukan oleh para elit dan sifatnya struktural. Oleh karena itu sebagai kritik, tulisan ini menempatkan tradisi oral (oral-based) dan ritual sebagai upaya untuk melihat bagaimana ritual kematian orang Toraja menjadi ruang bagi dialog antar agama. Pendekatan dalam tulisan ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan penulis lakukan melalui wawancara dan review literatur terhadap teks yang bersinggungan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori solidaritas Durkheim dan Ritual dalam beberapa tokoh sosiolog sebagai perspektif untuk melihat bagaimana keterkaitan antara ritual dan nilai-nilai dalam ritual menjadi jembatan untuk dialog antar agama. Melalui tulisan ini, penulis menemukan bahwa dialog antara agama dalam ritual rambu solo’ menempatkan identitas primordial sebagai yang utama bukan identitas keagamaan. Oleh karena itu, ritual berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang di dalamnya orang menemukan dan menciptakan makna (meaning making) dengan individu dan kelompok sebagai suatu komunitas.
Copyrights © 2024