Latar belakang dari penelitian ini adalah korupsi masih menjadi masalah di setiap negara. ACFE setiap tahunnya masih memberikan laporan mengenai kasus-kasus yang terjadi di dunia. Salah satu yang dapat mendeteksi kasus korupsi dengan adanya laporan dari whistleblower. ACFE melaporkan setiap tahunnya bahwa laporan dari whistleblower lebih efektif. Terdapat peningkatan kasus yang terungkap karena adanya whistleblowing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sikap, norma subjektif, kontrol perilaku, komitmen organisasi, budaya organisasi berpengaruh terhadap intensi seseorang untuk melakukan whistleblowing. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner, populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di berbagai divisi antara lain divisi keuangan, pembukuan, IT, HRD dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap, kontrol perilaku, komitmen organisasi, dan budaya organisasi berpengaruh positif terhadap intensi seseorang untuk melakukan whistleblowing. Sedangkan norma subjektif berpengaruh negatif terhadap intensi seseorang melakukan whistleblowing. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi sikap, kontrol perilaku, komitmen organisasi, dan budaya organisasi, maka semakin tinggi pula intensi seseorang untuk melakukan whistleblowing. Sedangkan semakin tinggi norma subjektif yang dimiliki seseorang, maka semakin rendah intensi untuk melakukan whistleblowing.
Copyrights © 2024