Artikel ini mendiskusikan fiksionalisasi histori tokoh Sultan Suleyman, Khalifah ke-10 Dinasti Turki Osmani, di dalam sinetron Turki ”Abad Kejayaan”, yang menimbulkan kontroversi. Di dalam teks sejarah, Sultan Suleyman dikenal sebagai pemimpin Turki Osmani terlama dan yang paling berhasil membawa Turki Osmani ke puncak masa kejayaan. Sultan Suleyman yang memerintah pada 1520-1566 juga mendapat julukan Suleyman Al-Kanuni (Suleyman Law-giver) karena kemampuannya membangun undang-undang yang diterapkan di Kekhalifahan Turki Osmani selama berabad-abad. Namun, di dalam sinetron ”Abad Kejayaan” Sultan Suleyman digambarkan sebagai tokoh laki-laki yang disibukkan oleh istri dan selir-selir yang saling berkonflik memperebutkan perhatiannya. Sinetron ini juga menampilkan latar kehidupan di wilayah harem dengan penampilan perempuan-perempuan berbusana terbuka dan adegan-adegan erotis, yang sangat bertentangan dengan etika Islam. Gambaran tokoh Sultan Suleyman Al-Kanuni sangat jauh dari horizon ekspektasi audiens. Dengan teori resepsi, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis horizon ekpektasi dari audiens dan preferred reading dari kreator sinetron ”Abad Kejayaan”. Temuan dari penelitian ini adalah sinetron ”Abad Kejayaan” merupakan karya fiksional yang menimbulkan ketegangan, karena adanya jarak yang jauh antara horizon ekspektasi dan preferred reading.
Copyrights © 2022