Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Revitalisasi Berbasis Translokal: Menghidupkan Kembali Puta Dino, Tenun Tidore yang Telah Punah Ade Solihat; Dwi Woro Retno Mastuti; Ari Anggari Harapan
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 6 NOMOR 1 MARET 2022 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.241 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v6i1.5908

Abstract

Puta dino adalah istilah untuk kain atau wastra di Tidore. Masyarakat Tidore pada masa kini masih mempertahankan berbagai tradisi dengan menggunakan kain adat. Namun, dalam ritual adat, masyarakat Tidore yang diwajibkan mengenakan pakaian adat tidaklah menggunakan kain adat khas Tidore, melainkan kain beragam motif dari wilayah Indonesia di luar Tidore. Tidak ditemukannya kain adat khas Tidore dalam berbagai pelaksanaan ritual adat tersebut, mendorong komunitas Ngofa Tidore (pemuda Tidore) untuk menghidupkan kembali kebudayaan menenun di Tidore. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia, menyambut ajakan Ngofa Tidore untuk bermitra dalam upaya menghidupkan kembali puta dino di masyarakat Tidore. Metode yang digunakan adalah penerapan Ipteks bagi Masyarakat, dengan Model Revitalisasi Berbasis Translokal. Model revitalisasi ini mengarahkan kepada proses memunculkan kembali puta dino yang bukan saja melibatkan kondisi dan potensi masyarakat di Tidore, namun juga melibatkan potensi masyarakat di Jepara dan Jakarta. Para penenun dikirim ke Jepara untuk mempelajari teknik menenun. Adapun Jakarta adalah tempat munculnya inspirasi untuk melahirkan kembali puta dino dan tempat bagi proses sosialisasi serta promosi puta dino, sebagai salah satu wastra nusantara. Hasil dari pendampingan ini adalah menguatnya motivasi para penenun, dan terbangunnya kesadaran dari banyak pihak untuk turut mendukung revitalisasi puta dino sebagai produk unggulan Tidore. Revitalisasi puta dino juga telah memperkokoh identitas sekaligus menunjukkan kontribusi Tidore dalam mewarnai mozaik wastra nusantara.
Indonesia and Turkey's Economic Diplomacy in Enhancing Economic Cooperation: IT-CEPA Case Study Almira Della; Ade Solihat
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August: In Progress
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.5947

Abstract

This article discusses Indonesia and Turkey's diplomacy in enhancing economic cooperation, a case study of the Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA). Globalization is very influential in the development of the country's economy. In increasing Indonesia's competitiveness, it cannot be separated from the regional or global level. The global economic slowdown in 2015 also had a major impact on the Indonesian economy, particularly in the trade sector. To improve the country's economy, Indonesia understands with Turkey in the Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) which has been going on for four rounds since it was signed in 2017. This article is compiled from qualitative research and aims to explain how economic diplomacy between Indonesia and Turkey is established through the Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA). The data is obtained through previous case studies and enriched with writings related to Indonesia's economic diplomacy obtained from books, scientific articles and popular articles accessed through the internet.
Asia as Method: Toward Deimperialization Solihat, Ade
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NEGOSIASI BUDAYA DALAM OLAHRAGA (Studi Kasus Atlet Berhijab Figure skating Pertama Uni Emirat Arab) Faiza Kintan Maharani; Ade Solihat
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol 8 No 3 (2023): Agustus
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58487/akrabjuara.v8i3.2143

Abstract

The phenomenon of hijab is creating more and more space for consideration. The use of hijab among female athletes in various sports is increasing. This research discusses the clothing performance of Zahra Lari, a figure skating athlete from Abu Dhabi, United Arab Emirates. Figure skating is a sport performed by dancing on ice with tight clothing attached to the athlete's body. This type of tight-fitting clothing is aerodynamic and lightweight to make it easier for athletes to move without feeling overloaded. Zahra Lari was the first female athlete to wear the hijab at the 2012 European Cup Winter Championships in Italy. Zahra Lari received a deduction in the competition due to her unusual use of the hijab. The deduction made Zahra Lari appeal to the International Skating Union (ISU), because she felt unfairly treated. The appeal was eventually accepted by the ISU and since then many figure skating athletes have worn the hijab in various competitions. Zahra Lari's efforts to negotiate the figure skating clothing model with the addition of hijab is the focus of this research. This research aims to explain how Zahra Lari negotiates culture in order to be accepted to compete in international figure skating competitions without leaving her attitude and worldview in dressing. This research uses a qualitative method. Data collection techniques were carried out by studying English-language media and remote interviews. Interviews were conducted with Zahra Lari as the main informant. Interviews were also conducted with a figure skating coach in Kuwait and a Kuwaiti national figure skating athlete. The results showed that Zahra Lari's cultural negotiation had an impact on cultural harmonisation in figure skating.
CONSTRUCTION OF FEMININITY IN MEDIA SPECTACLE: THE PHENOMENON OF INDONESIAN TIKTOKER CROSS GENDER PERFORMANCES Xue, Jiang; Solihat, Ade
International Review of Humanities Studies Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the development of the short video industry in Southeast Asia in recent years, cross gender performances by male bloggers have become a special cultural phenomenon that is rapidly emerging. It has become a new self media trend for male bloggers to imitate female images and construct femininity. This article uses media spectacle theory as a perspective to interpret the reasons for the rise, presentation methods and meaning construction of cross gender performances by Indone sian male bloggers. This article uses qualitative research methods, combining media spectacle theory and gender studies theory to research and analyze six Indonesian male bloggers. The study concluded that Indonesian male bloggers use short videos as a med ium to present cross gender performances through character visual images, scenes and words, forming a media spectacle through the interaction between video bloggers, commercial capital and the audience. This kind of gender performances brings challenges to traditional hegemonic gender temperament and attempts to cross binary gender boundaries. But It also has the problem of cultural production tending to be vulgar.
MAKNA SOSIO-HISTORIS BAJU KURUNG TELUK BELANGA PADA BUSANA PENGANTIN PRIA KESULTANAN JOHOR DARUL TA’ZIM Arie Toursino Hadi; Ade Solihat; Maman Lesmana; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari-Juni 2019
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v2i1.613

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai makna yang terkandung dalam pakaian pengantin pria Kesultanan Johor Darul Ta’zim dilihat dari perspektif sosio-historis. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna yang terkandung dalam pemilihan Baju Kurung Teluk Belanga sebagai pakaian resmi salah satu kesultanan di Malaysia ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara dan tinjauan pustaka. Hasil penelitian ini adalah, busana pengantin pria Kesultanan Johor Darul Ta’zim menggunakan Baju Kurung Teluk Belanga, yang berbeda dengan etnis Melayu yang lain, merupakan wujud dari kedaulatan Kesultanan Johor Darul Ta’zim dalam membentuk tradisi yang berlaku di wilayahnya.
AKULTURASI BUDAYA ARAB DALAM MOTIF KALIGRAFI BATIK BESUREK BENGKULU Khalish, Yuha Afina; Solihat, Ade
Jurnal Kajian Seni Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Kajian Seni Vol 10 No 1 November 2023
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jksks.81340

Abstract

Batik telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia oleh UNESCO. Batik besurek merupakan salah satu kain batik di Indonesia yang berasal dari Bengkulu. Kain batik besurek memiliki kekhasan pada motifnya, yaitu kaligrafi Arab yang menjadikan hal tersebut sebagai bentuk akulturasi budaya. Akulturasi budaya dalam kain batik besurek juga menghasilkan motif kain besurek baru hasil perkembangan dari perajin kain besurek di Bengkulu. Dalam penelitian ini dibahas tentang hasil akulturasi budaya Arab dengan budaya Indonesia pada batik besurek Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka dan wawancara. Data-data diperoleh dari artikel jurnal, laporan penelitian, dan buku serta wawancara dengan narasumber. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori akulturasi budaya dari Koentjaraningrat. Motif kaligrafi yang terdapat di dalam kain besurek tidak terlalu jelas terlihat, sehingga khat yang biasa digunakan adalah khat kabur mutlak. Hasil dari akulturasi budaya dalam kain batik besurek berupa perkembangan motif kain besurek yang terdapat bunga raflesia yang merupakan ikon dari Provinsi Bengkulu. Kata kunci: Akulturasi Budaya, Arab, Batik Besurek, Bengkulu, Kaligrafi.
MODERNISASI BUDAYA MINUM KOPI GAHWA DI UNI EMIRAT ARAB Rahadian, Nurmalitasari; Solihat, Ade
Multikultura Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang budaya gahwa, yaitu tradisi minum kopi di Uni Emirat Arab. Tradisi ini telah menjadi sarana interaksi sosial masyarakat Emirati sejak abad ke-15 Masehi dan masih bertahan hingga era modern ini. Bukan sekadar bertahan, tradisi gahwa di Uni Emirat Arab sejalan dengan modernisasi yang tengah berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana budaya gahwa dipertahankan oleh masyarakat Emirati dan dapat selaras dengan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil informasi dari buku, artikel jurnal elektronik, video yang termuat di Youtube dan artikel di situs web. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modernisasi yang dikemukakan Koentjaraningrat, dan didukung oleh teori pelestarian budaya lokal yang dikemukakan Jacobus Ranjabar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gahwa telah menjadi tradisi masyarakat Emirati yang terus dipraktikkan sebagai gaya hidup keseharian. Budaya gahwa kemudian dikomodifikasikan oleh masyarakat Emirati. Saat ini gahwa dapat dijumpai di banyak restoran dan kafe di Uni Emirat Arab, baik dengan cita rasa autentik maupun inovasi. Selain itu Pemerintah Emirati menyelenggarakan program Kompetisi Gahwa Internasional, Bait Al-Gahwa, dan program pariwisata budaya untuk mempromosikan budaya gahwa kepada masyarakat global.
ANALISIS RESEPSI TERHADAP FIKSIONALISASI HISTORI TOKOH SULEYMAN AL-KANUNI DI DALAM SINETRON TURKI “ABAD KEJAYAAN” Solihat, Ade
Multikultura Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendiskusikan fiksionalisasi histori tokoh Sultan Suleyman, Khalifah ke-10 Dinasti Turki Osmani, di dalam sinetron Turki ”Abad Kejayaan”, yang menimbulkan kontroversi. Di dalam teks sejarah, Sultan Suleyman dikenal sebagai pemimpin Turki Osmani terlama dan yang paling berhasil membawa Turki Osmani ke puncak masa kejayaan. Sultan Suleyman yang memerintah pada 1520-1566 juga mendapat julukan Suleyman Al-Kanuni (Suleyman Law-giver) karena kemampuannya membangun undang-undang yang diterapkan di Kekhalifahan Turki Osmani selama berabad-abad. Namun, di dalam sinetron ”Abad Kejayaan” Sultan Suleyman digambarkan sebagai tokoh laki-laki yang disibukkan oleh istri dan selir-selir yang saling berkonflik memperebutkan perhatiannya. Sinetron ini juga menampilkan latar kehidupan di wilayah harem dengan penampilan perempuan-perempuan berbusana terbuka dan adegan-adegan erotis, yang sangat bertentangan dengan etika Islam. Gambaran tokoh Sultan Suleyman Al-Kanuni sangat jauh dari horizon ekspektasi audiens. Dengan teori resepsi, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis horizon ekpektasi dari audiens dan preferred reading dari kreator sinetron ”Abad Kejayaan”. Temuan dari penelitian ini adalah sinetron ”Abad Kejayaan” merupakan karya fiksional yang menimbulkan ketegangan, karena adanya jarak yang jauh antara horizon ekspektasi dan preferred reading.
Evaluating ChatGPT’s Accuracy Across Cognitive Levels in Academic Assessments Nurhasanah, Astutiati; Suralaga, Fadhilah; Rosyidah, Ida; Nihayah, Zahrotun; Sari, Riri Fitri; Solihat, Ade; Ernada, Nabila
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 11 NO. 2 2024
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v11i2.44701

Abstract

AbstractThis study evaluates the accuracy of ChatGPT’s free version in answering academic questions based on Bloom’s Taxonomy cognitive levels (C1–C6) and disciplines (physics, social sciences, and religious studies) at two universities in Jakarta. A mixed-method approach was used, combining statistical and content analyses. Thirty-five lecturers from UIN Jakarta and the University of Indonesia submitted exam questions in Bahasa Indonesia to ChatGPT, and the responses were scored on a 0–100 accuracy scale. Results show that ChatGPT performs well on multiple-choice questions (C1–C3) in physics but struggles with higher-order tasks (C5–C6) requiring synthesis, evaluation, and creativity. In social sciences, accuracy was consistent, particularly in theoretical questions, though ChatGPT faced challenges with data-driven analysis and practical application. Religious studies exhibited high accuracy across all cognitive levels due to the structured and doctrinal nature of the material.Statistical analysis revealed significant differences in accuracy between lower and higher cognitive levels in physics (p = 0.005) and religious studies (p = 0.011), but no significant difference in social sciences (p = 0.137). ANOVA (p = 0.464) showed no significant differences across disciplines. This study highlights ChatGPT’s effectiveness in answering lower to intermediate-level questions (C1–C4) but identifies limitations with higher-level tasks (C5–C6). These findings encourage educators to design questions that assess deeper cognitive skills while utilizing AI’s strengths in supporting learning and knowledge acquisition.AbstrakStudi ini mengevaluasi akurasi versi gratis ChatGPT dalam menjawab pertanyaan akademik berdasarkan tingkat kognitif Taksonomi Bloom (C1–C6) dan disiplin ilmu (fisika, ilmu sosial, dan studi keagamaan) di dua universitas di Jakarta. Pendekatan mixed-method digunakan, menggabungkan analisis statistik dan konten. Sebanyak 35 dosen dari UIN Jakarta dan Universitas Indonesia mengajukan soal ujian dalam Bahasa Indonesia ke ChatGPT, dan jawaban yang dihasilkan dinilai pada skala akurasi 0–100. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT unggul pada soal pilihan ganda (C1–C3) di bidang fisika, tetapi kesulitan pada tugas tingkat tinggi (C5–C6) yang membutuhkan sintesis, evaluasi, dan kreativitas. Pada ilmu sosial, akurasi cenderung konsisten, terutama pada soal teoretis, meskipun ChatGPT menghadapi tantangan dalam analisis berbasis data dan penerapan praktis. Pada studi agama, ChatGPT menunjukkan akurasi tinggi di semua tingkat kognitif karena struktur materi dan interpretasi doktrin yang jelas. Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan pada akurasi antara tingkat kognitif rendah dan tinggi di fisika (p = 0,005) dan studi agama (p = 0,011), tetapi tidak pada ilmu sosial (p = 0,137). Hasil ANOVA (p = 0,464) menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar disiplin ilmu secara keseluruhan. Studi ini menyoroti efektivitas ChatGPT dalam menjawab soal tingkat rendah hingga menengah (C1–C4) tetapi mengidentifikasi keterbatasan pada tugas tingkat tinggi (C5–C6). Temuan ini mendorong pendidik untuk merancang soal yang mengukur keterampilan kognitif mendalam sambil memanfaatkan kekuatan AI dalam mendukung pembelajaran dan akuisisi pengetahuan.How to Cite: Nurhasanah, A., Suralaga, F., Rosyidah, I., Nihayah, Z., Sari, R. F., Solihat, A., & Ernada, N. (2024). Evaluating ChatGPT’s Accuracy Across Cognitive Levels in Academic Assessments. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 211-224. https://doi.org/10.15408/tjems.v11i2.44701