Tradisi hantaran pernikahan adat Aceh mempunyai keunikan pada penutup hantaran pernikahannya, yang biasa disebut sangee (tudung saji) Aceh. Seiring dengan perkembangan zaman beberapa tradisi dan kebudayaan Aceh sedikit memudar akibat arus globalisasi, termasuk pada hantaran pernikahan. Umumnya masyarakat pada era modern lebih tertarik dengan apa yang sedang trend pada masanya dan mengedepankan aspek estetika dan fungsi dibandingkan aspek lainnya sehingga aspek filosofis seringkali terabaikan. Akibat dari hal tersebut perlu adanya modifikasi pada hantaran pernikahan adat istiadat Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi desain motif, warna serta teknik menghias menggunakan teknik bordir dan sulaman payet pada hantaran pernikahan adat Aceh serta mengetahui pendapat responden mengenai sangee yang telah dimodifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yaitu ahli motif dan desain, pengrajin sangee Aceh dan pengguna sange Aceh yang ditetapkan melalui purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik sulaman payet sudah banyak dibuat oleh pengrajin sangee Aceh, pada umunnya dikerjaan menggunakan keterampilan tangan dengan sulaman payet dan kasab. Namun penggunaan teknik hias bordir jarang ditemui oleh pengrajin sangee Aceh, dan motif kerawang Gayo merupakan salah satu inovasi hiasan pada Sange. Disarankan kepada pengrajin Sangee Aceh dan masyarakat Aceh dapat mengembangkan dan melestarikan Sangee hantaran pernikahan Aceh sebagai perangkat adat yang sudah dimiliki sebagai budaya daerah yang tidak tergantikan dengan bentuk-bentuk modern.Kata Kunci: Modifikasi sangee, hantaran pernikahan adat AcehThe tradition of delivering a traditional Acehnese wedding is unique, in the closing of the wedding ceremony, whice is commonly called the acehnese sangee (cerving hood). Along with the development of the time, some of Acehs traditions and culture have fade a litle do to globalization, including in sending weddings. In general people in the modern era are more intersested in the was trending at the time and put forward aesthetic and functional aspects compared to other aspects, so that the philosophical aspects is often neglected. As a result of this, it is necessary to modify the delevery of Acehnese customary marriages. This study aims to modify motif designs, colors and decorating techniques using embrodery and sequin embrodery techniques for traditional acehnese wedding and to find out the respondents opinions aboaut the modified sangee. The method used in this study is an applied experimental method with a descriptive qualitative approaach. Tehere wewe 3 subjects in this study, namely motif and design experts, acehnese sangee craftsmen and Acehnese sangee users who were determined through purposive sampling. Collecting data through observation, interviews and documentation. Theresullts showed that many sequin embroidery techniques had been made by Acehnese sangee craftsmen, in general the work was done using hand skill with sequin and kasab embroidery. Howefer, the use of decorative embroidery techniques is rarely found by Acehnese sangee crraftmen, and the Gayo filigree motif is one of the decorative innovations of Sangee. It is suggested that the Acehnese Sangee craftmen and the people of Aceh can develop and preserve the Sangee Aceh wedding delivery as a traditional device that ai already owned as regional culture that is irreplaceable with modern forms. Keyword: Modification of Sangee, Acehs traditional wedding gift
Copyrights © 2022