. Fadhillah
Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga FKIP Universitas Syiah Kuala

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MODIFIKASI MOTIF, WARNA SERTA TEKNIK MENGHIAS SANGE HANTARAN PERNIKAHAN ADAT ACEH Sitah Harliza; . Fadhillah; . Nurbaiti
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi hantaran pernikahan adat Aceh mempunyai keunikan pada penutup hantaran pernikahannya, yang biasa disebut sangee (tudung saji) Aceh. Seiring dengan perkembangan zaman beberapa tradisi dan kebudayaan Aceh sedikit memudar akibat arus globalisasi, termasuk pada hantaran pernikahan. Umumnya masyarakat pada era modern lebih tertarik dengan apa yang sedang trend pada masanya dan mengedepankan aspek estetika dan fungsi dibandingkan aspek lainnya sehingga aspek filosofis seringkali terabaikan. Akibat dari hal tersebut perlu adanya modifikasi pada hantaran pernikahan adat istiadat Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi desain motif, warna serta teknik menghias menggunakan teknik bordir dan sulaman payet pada hantaran pernikahan adat Aceh serta mengetahui pendapat responden mengenai sangee yang telah dimodifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yaitu ahli motif dan desain, pengrajin sangee Aceh dan pengguna sange Aceh yang ditetapkan melalui purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik sulaman payet sudah banyak dibuat oleh pengrajin sangee Aceh, pada umunnya dikerjaan menggunakan keterampilan tangan dengan sulaman payet dan kasab. Namun penggunaan teknik hias bordir jarang ditemui oleh pengrajin sangee Aceh, dan motif kerawang Gayo merupakan salah satu inovasi hiasan pada Sange. Disarankan kepada pengrajin Sangee Aceh dan masyarakat Aceh dapat mengembangkan dan melestarikan Sangee hantaran pernikahan Aceh sebagai perangkat adat yang sudah dimiliki sebagai budaya daerah yang tidak tergantikan dengan bentuk-bentuk modern.Kata Kunci: Modifikasi sangee, hantaran pernikahan adat AcehThe tradition of delivering a traditional Acehnese wedding is unique, in the closing of the wedding ceremony, whice is commonly called the acehnese sangee (cerving hood). Along with the development of the time, some of Acehs traditions and culture have fade a litle do to globalization, including in sending weddings. In general people in the modern era are more intersested in the was trending at the time and put forward aesthetic and functional aspects compared to other aspects, so that the philosophical aspects is often neglected. As a result of this, it is necessary to modify the delevery of Acehnese customary marriages. This study aims to modify motif designs, colors and decorating techniques using embrodery and sequin embrodery techniques for traditional acehnese wedding and to find out the respondents opinions aboaut the modified sangee. The method used in this study is an applied experimental method with a descriptive qualitative approaach. Tehere wewe 3 subjects in this study, namely motif and design experts, acehnese sangee craftsmen and Acehnese sangee users who were determined through purposive sampling. Collecting data through observation, interviews and documentation. Theresullts showed that many sequin embroidery techniques had been made by Acehnese sangee craftsmen, in general the work was done using hand skill with sequin and kasab embroidery. Howefer, the use of decorative embroidery techniques is rarely found by Acehnese sangee crraftmen, and the Gayo filigree motif is one of the decorative innovations of Sangee. It is suggested that the Acehnese Sangee craftmen and the people of Aceh can develop and preserve the Sangee Aceh wedding delivery as a traditional device that ai already owned as regional culture that is irreplaceable with modern forms. Keyword: Modification of Sangee, Acehs traditional wedding gift
KREASI TAS ULOS DALAM MENINGKATKAN MINAT REMAJA TERHADAP TENUNAN TRADISIONAL DI ERA GLOBALISASI Putri Rahmadani Sinaga; Rosmala Dewi; . Fadhillah
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi merupakan proses persatuan seluruh masyarakar di dunia menjadi sebuah kelompok masyarakat global. Salah satu benda yang terkena dampak globalisasi adalah tenunan tradisional. Tenunan tradisional sendiri merupakan kain peninggalan para leluhur yang memiliki jenis dan motif yang sangat banyak. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pengaruh globalisasi, membuat kreasi produk tas dari bahan tenunan tradisional suku batak di Sumatera Utara (ulos) dan mengetahui daya tarik remaja terhadap produk kreasi tas dari tenun ulos. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen terapan dan pendekatan kuantitatif. Untuk mengetahui tentang ketertarikan konsumen terhadap kreasi tas ulos dibutuhkan mahasiswa-mahasiswi FKIP Universitas Syiah Kuala yang aktif kuliah Tahun Pelajaran 2021/2022 untuk sampel sebanyak 669 orang. Pada hasil penelitian penulis telah mendesain tiga model tas ulos, pada eksperimen model pertama menggunakan kain ulos berjenis ulos sadum dengan model tas yang berukuran kecil dan desain yang simpel. Kancing magnet membuat tas ini menjadi lebih menarik. Pada eksperimen model kedua menggunakan kain ulos berjenis ulos ragi hotang denan model simpel tetapi elegan dengan ukuran tas yang cukup besar dan memiliki tali yang panjang sehingga dapat diatur sesuai dengan keingginan pengguna. Serta pada eksperimen model ketiga menggunakan jenis ulos sitoluntuho dengan model yang lebih unik dan memiliki aksesoris serta dua saku pada bagian dalam dan luar tas. Berdasarkan hasil dari mengedarkan kuesioner, para remaja saat ini sangat setuju bahwa globalisasi berdampak pada tenunan tradisional dan mempengaruhi minat remaja terhadap tenunan. Adapun kreasi tas ulos yang meningkatkan minat remaja terhadap tenunan tradisional yaitu tas ulos pada model II diikuti pada model III dan model I.Kata kunci: Globalisasi, Tenunan Tradisional, Tas UlosABSTRACTGlobalization is the process of uniting all people in the world into a global community group. One of the objects affected by globalization is traditional weaving. Traditional weaving itself is a cloth left by the ancestors which has many types and motifs. The purpose of the study was to describe the influence of globalization, to create bag creations from traditional Batak woven materials in North Sumatra (ulos) and to find out the attractiveness of teenagers to bag creation products from ulos weaving. The method used is an applied experimental method and a quantitative approach. To find out about consumer interest in the creation of ulos bags, it takes FKIP Syiah Kuala University students who are actively studying in the 2021/2022 academic year for a sample of 669 people. In the results of the research, the author has designed three models of ulos bags, in the first experiment the model used ulos cloth of the ulos sadum type with a small bag model and a simple design. Magnetic buttons make this bag even more attractive. In the second model experiment, using ulos cloth of the hotang yeast ulos type with a simple but elegant model with a bag size that is quite large and has a long strap so that it can be adjusted according to the user's wishes. As well as in the third model experiment using the ulos sitoluntuho type with a more unique model and has accessories and two pockets on the inside and outside of the bag. Based on the results of distributing questionnaires, today's youth strongly agree that globalization has an impact on traditional weaving and affects adolescents' interest in weaving. The creation of ulos bags that increase youth's interest in traditional weaving is the ulos bag in model II, followed by model III and model I.Keywords: Globalization, Traditional Weaving, Ulos Bag
TRADISI UPACARA PERKAWINAN ADAT JAWA DI KOTA LANGSA Kiki Syafridayanti; . Fadhillah; . Nurbaiti
Jurnal Busana & Budaya Vol 2, No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang penulis lakukan untuk mengungkap adat dan tradisi masyarakat Jawa di Kota Langsa pada upacara perkawinan, yang bertujuan untuk mengindentifikasi tahapan proses upacara perkawinan adat Jawa Tengah, serta mengetahui makna tahapan prosesi upacara perkawinan adat Jawa Tengah. Subjek pada penelitian ini yaitu 5 pengantin dan 1 orang tokoh adat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tahapan prosesi upacara perkawinan adat Jawa Tengah di Kota langsa terdiri dari: pembentukan panitia, upacara langkahan, upacara pemasangan tarub, upacara menanak nasi, upacara penolak hujan, upacara siraman, akad nikah, malam midodareni, upacara nebus kembar mayang, dan upacara panggih yang terdiri dari: upacara balangan sirih (lempar sirih), upacara wiji dadi (menginjak telur), upacara membasuh kaki, sindur binayang, upacara pemecahan kendhi, sungkeman, upacara dulangan, upacara tepung tawar, dan upacara jenang sumsum. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa makna yang terkandung pada upacara perkawinan adat Jawa adalah simbol yang mengarah pada suatu pengharapan dan doa yang dilakukan oleh pengantin dan kedua orang tua pengantin kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari marabahaya. Makna yang terkandung pada upacara adat sangatlah penting untuk diketahui oleh masyarakat terutama generasi muda di Kota Langsa agar terus dapat melestarikan tradisi upacara perkawinan adat Jawa tersebut sehingga tidak hilang oleh perkembangan zaman.Kata kunci : Tradisi Upacara, Perkawinan, Adat Jawa ABSTRACThe research that the author conducted was to reveal the customs and traditions of the Javanese people in Langsa City at the wedding ceremony, which aims to identify the stages of the Central Javanese traditional wedding ceremony process., and to find out the meaning of the stages of the central Javanese traditional wedding ceremony procession. The subjects in this study were 5 brides and 1 traditional leader. This study used descriptive qualitative method. The data was collected by means of observation, interview and documentation techniques. The results of the research show that the stages of the Central Javanese traditional wedding ceremony procession in Langsa City consist of: the information of committee, the langkahan ceremony, the tarub installation ceremony, the rice cooking ceremony, the rain repellent ceremony, the siraman ceremony, the marriage contract, the midodareni night, the twin mayang nebus ceremony, and the grilling ceremony which consists of: balangan sirih (throwing betel) ceremony, wiji dadi ceremony (stepping on an egg), food washing ceremmony, sindur binayang, kendhi breaking ceremony, sungkeman, dulangan ceremony, plain flour ceremony, and marrow jenang. From the results of the study it can be cloncluded that the meaning contained in the Javanese traditional wedding ceremony is a symbol that leads to a wish and prayer made by the bride and groom and the parents of the bride and groom to God Almighty in order to avoid distress. The meaning contained in traditional ceremonies is very important to be known by the community, especially the younger generation in Langsa City so that they can continue to preserve the tradition wedding ceremonies so that they are not lost by the times.Keywords: Ceremonial traditions, Marriage, Javanese Customs.