Penggunaan teknologi dalam pendidikan di era digital bukanlah untuk menggantikan peran mengajar guru secara tradisional, tetapi menjadi suatu platform yang dapat mempermudah proses pembelajaran. Para guru digital immigrant yang lahir pada masa peralihan era analog ke era digital dituntut untuk mempelajari perkembangan teknologi. Problematika yang dihadapi para guru digital immigrant adalah terbiasanya dengan metode pengajaran konvensional. TechnoResilience atau resiliensi terhadap teknologi dalam penelitian ini mengacu pada kemampuan resiliensi para guru digital immigrant dalam menghadapi segala tantangan mempelajari teknologi di era digital. Peneliti menggunakan skala resiliensi terstandarisasi yaitu Resilience Scale 14 oleh Wagnild dan Young yang berisi 14 pernyataan yang mengukur dua sub faktor resiliensi yaitu faktor kemampuan diri dan faktor penerimaan diri. Faktor kemampuan diri terdiri dari aspek meaningfulness, self-reliance dan perseverance, sedangkan faktor penerimaan diri terdiri dari aspek equanimity dan existential aloneness. Subjek dalam penelitian ini adalah laki-laki dan perempuan yang berprofesi sebagai guru dan lahir pada tahun 1965- 1980. Pengelompokkan tersebut merujuk kepada pembagian tahun kelahiran ketika peralihan dari era analog ke era digital. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif univariat karena hanya menggunakan satu variabel dan penyajian statistik deskriptif data dengan bantuan software SPSS 26. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tingkat Techno Resilience para guru digital immigrant sebanyak 18 subjek berada pada kategori sedang dan 30 subjek dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan guru digital immigrant memiliki kemampuan akan dirinya sendiri untuk bisa beradaptasi pada perkembangan teknologi di era digital yang dilihat dari capaian masing-masing karakteristik dimensi pembentuk kemampuan resiliensi.
Copyrights © 2024