Riset ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kebijakan pendidikan inklusif di SMAN 3 Pontianak. Menggunakan metode riset kualitatif dengan pendekatan analisis kasus. Subjek riset adalah kepala sekolah, 22 pengajar serta 355 siswa. Teknik pengumpulan data melalui wawancara untuk memahami peran kepemimpinan kepala sekolah dan kebijakan inklusi yang diterapkan. Mengamati secara langsung aktivitas sekolah, pertemuan terkait kebijakan inklusi, proses belajar di dalam kelas serta interaksi antara pengajar, kepala sekolah, serta siswa. Pengumpulan dokumen kebijakan sekolah terkait pendidikan inklusif, laporan kegiatan yang melibatkan peserta didik berkebutuhan khusus, dan notulen rapat yang melibatkan kepala sekolah dalam pengambilan keputusan. Data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan kepala sekolah, strategi penerapan kebijakan inklusif, tantangan yang dihadapi, dan solusi yang diterapkan. Teknik triangulasi data menggunakan berbagai sumber data untuk memastikan validitas dan konsistensi temuan. Kepala sekolah aktif mengadvokasi pendidikan inklusif, tetapi belum memberikan pelatihan untuk guru dan hanya melakukan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah tentang pentingnya menerima siswa berkebutuhan khusus. Kurangnya dukungan administratif, sumber daya penyediaan akses pelatihan guru mengenai metode pengajaran inklusif, dan tidak ada kerja sama dengan psikolog pendidikan untuk siswa kebutuhan khusus. Diperlukan upaya lanjut untuk guru dan staf mengikuti pelatihan memadai agar pendidikan inklusif dapat terlaksana dengan baik. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan orang tua dalam mendukung kebijakan pendidikan inklusif melalui sosialisasi dan komunikasi yang efektif. Melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan dan praktik pendidikan inklusif untuk menilai efektivitasnya serta melakukan perbaikan yang diperlukan.
Copyrights © 2024