Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh salah satu SDIT Kabupaten Bengkalis, menganalisis perbedaan model integrasi-interkoneksi, serta melihat sisi transformasi dari implementasi paradigma tersebut. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan inti, yaitu tahap orientasi, eksplorasi, dan interpretasi. Pada tahap orientasi, dilakukan kajian mendalam terkait implementasi paradigma keilmuan integrasi-interkoneksi di SDIT tersebut. Selanjutnya, tahap eksplorasi dan interpretasi dilaksanakan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma integrasi-interkoneksi di SDIT Bengkalis memaknai ulang konsep hadarah al-Nash, hadarah al-Ilm, dan hadarah al-Falsafi yang dikembangkan oleh Prof. Amin Abdullah sebagai basis dalam integrasi-interkoneksi di perguruan tinggi. Dalam pelaksanaannya, konsep tersebut dimaknai secara integratif dengan Tuhan (hadarah al-Nash), Alam (hadarah al-Ilm), dan Manusia (hadarah al-Falsafi), namun lebih praktis dan berbeda dibandingkan konsep Amin Abdullah yang cenderung filosofis dan epistemologis. Transformasi yang dilakukan SDIT ini menitikberatkan pada pembentukan akhlak dan adab siswa sebagai proses islamisasi ilmu, menjadikan pendekatan ini relevan untuk pendidikan dasar. Penelitian ini juga menggambarkan hubungan antara metode penelitian (orientasi, eksplorasi, interpretasi) dengan hasil yang diperoleh, menegaskan bahwa paradigma integrasi-interkoneksi berbasis pendidikan dasar yang praktis dapat memberikan alternatif inovatif dalam membangun pendidikan berbasis nilai Islam.
Copyrights © 2024