Tari Tiga Serangkai merupakan karya tari dari Sanggar Andari yang tercipta pada tahun 2002 atas respon terhadap konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1996. Kemajemukan itu dilihat oleh Kusmindari Triwati bukan sesuatu yang memecah belah justru menjadi simbolik Persatuan dan menjadi dasar terbentuknya tari Tiga Serangkai. Tari yang tidak lepas dari musik pengiringnya tentunya saling berkorelasi dalam konsep persatuan dari berbagai etnis tersebut, sehingga Intensitas Budaya yang terkandung di dalam karya ini menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam terutama sebagai sebuah medium pemersatu masyarakat yang mejemuk di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif serta Etnomusikologi sebagai pendekatan dalam menggali lebih dalam mengenai intensitas budaya dalam sudut pandang musik. Intensitas budaya yang terkandung dalam karya tari Tiga Serangkai oleh Sanggar Andari tampak melalui penyatuan elemen musik dan tarian dari berbagai latar belakang etnis yang ada di Kalimantan Barat. Intensitas Budaya yang terkandung dalam tari Tiga Serangkai bukan hanya sebuah karya gerak tari namun lebih dalam karya tersebut sebagai sebuah penggambaran sejarah, nilai, serta menjadi ruang dialektika antar suku menuju keharmonisan di Kalimantan Barat. Tiga Serangkai dance is a dance work from Sanggar Andari that was created in 2002 in response to the ethnic conflict that occurred in West Kalimantan in 1996. The plurality is seen by Kusmindari Triwati as not something that divides, but instead becomes a symbolic unity and becomes the basis for the formation of Tiga Serangkai dance. The dance that cannot be separated from the accompanying music is certainly correlated with the concept of unity of the various ethnicities, so that the Cultural Intensity contained in this work becomes interesting to be examined more deeply, especially as a unifying medium for pluralistic communities in West Kalimantan. This research uses qualitative research using descriptive methods and Ethnomusicology as an approach in digging deeper into cultural intensity from a musical point of view. The cultural intensity contained in the Tiga Serangkai dance work by Sanggar Andari is seen through the unification of music and dance elements from various ethnic backgrounds in West Kalimantan. The cultural intensity contained in Tiga Serangkai dance is not only a work of dance movements but deeper than that work as a depiction of history, values, and a dialectical space between tribes towards harmony in West Kalimantan.
Copyrights © 2024