Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Sosialisasi Materi dan Bahan Ajar Musik Tradisional Sebagai Refrensi Pembelajaran Seni Budaya Nurmila Sari Djau
Dikmas: Jurnal Pendidikan Masyarakat dan Pengabdian Vol 2, No 1 (2022): March
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/dikmas.2.1.203-212.2022

Abstract

Kurang refrensinya guru terkait musik tradisi Dayak yang ada di Kalimantan Barat menjadi dasar untuk dilaksanakanya kegiatan sosilalisasi. Di mana kegiatan ini ditujukan untuk menambah pengetahuan para guru tentang bahan ajar musik tradisional yang ada di Kalimantan Barat. Kegiatan Pengabdian ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi kepada guru SMP Seni Budaya di Kab. Mempawah Kalimantan Barat. Adapun metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu pertama koordinasi waktu pelaksanaan, pelaksanaan teknis, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini yaitu meningkatnya wawasan dan pengetahuan guru tentang musik tradisi yang ada di Kalimantan Barat khususnya musik tradisi iringan Tari Pinggan, yang dapat dijadikan bahan ajar pada mata pelajaran Seni Budaya. Selain itu guru mengenal aplikasi yang dapat dijadikan refrensi dalam membuat media pembelajaran yang menarik dan atraktif. Kegiatan ini juga diharapakan dapat menstimulus para guru dan dosen untuk selalu melakukan kreativitas dalam kegiatan mengembangkan materi pembelajaran.
ANALISIS PROBLEMATIKA GURU SENI BUDAYA (SENI MUSIK) DALAM MELAKSANAAN MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DI SMA NEGERI KOTA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Nurmila Sari Djau
Indonesian Journal of Basic Education Vol 2 No 3 (2019): INDONESIAN JOURNAL OF BASIC EDUCATION
Publisher : STKIP Rokania Pasir Pangaraian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.111 KB)

Abstract

Analysis of the problems of the Cultural Arts teacher in the field of Music Arts is motivated by the curiosity of researchers to describe the problems faced by the Cultural Arts teacher in the field of Music and Arts in carrying out learning. The purpose of this study is to describe the problems faced by the teacher and the strategies that the teacher undertakes in overcoming the problem. This study uses a qualitative method, with the subject of the study being the Arts and Culture teacher with a background in Music Arts, totaling six people. Data collection is done by observation, interviews, and documentation. The results of this study are the problems faced by teachers, namely first determining other art fields that must be taught, difficulties in compiling learning planning devices, determining objectives and learning material, related to other art fields that must be taught. Secondly, the understanding and artistic ability of students who are different in class, resulting in teacher difficulties in conducting assessments. The strategy is for the teacher to take part in training and find information related to the preparation of planning tools, and to study the manual independently in order to teach other sub-fields of art. Second, teachers vary the learning methods, and use assessment techniques that are appropriate for students who have insights or abilities that are perceived as lacking in Art and Culture subjects
Pembelajaran Instrumen Biola Di Yamaha Music School Pontianak Lania Fitriani Banowati; Nurmila Sari Djau; Asfar Muniir
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 8, No 2 (2022): May 2022
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.8.2.1117-1126.2022

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah pembelajaran di Yamaha Music School (YMS) memiliki Kualitas yang baik dan berstandar internasional, tidak terkecuali biola.Hal ini kemudian berpengaruh pada kualitas para siswa, dimana kulitas dari siswa YMS memiliki keterampilan yang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti terkait pembelajaran Biola di YMS Pontianak. Bentuk penelitian ini, yaitu kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan sumber data adalah informan berupa guru, siswa dan pengelola YMS. Pengujian keabsahan menggunakan triangulasi teknik, sumber dan perpanjangan pengamatan, yang kemudian dianalisis menggunakan analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah pembelajaran biola dilaksanakan oleh YMS dengan waktu 30 menit, dan fasilitas yang sangat menunjang untuk pelaksanaan pembelajaran. Materi pembelajaran mengacu pada kurikulum internasional dari Yamaha Music Foundation Jepang, yang diajarkan dengan menggunakan metode demontrasi, instruksi, dan Latihan bersama di mana guru dan siswa berlatih bersama. Kemudian evaluasi pembelajaranya terdapat 2 jenis evaluasi yaitu evaluasi mikro dan makro. Evluasi mikro adalah dalam proses pembelajaran dikelas, dilakukan pada akhir pertemuan sedangkan evaluasi makro yaitu ujian kenaikan tingkat yang diadakan 6 bulan sekali, untuk menguji siswa yang mampu memainkan materi ujian yang telah dipelajari selama 6 bulan.
Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Untan Pontianak Nurmila Sari Djau; Asfar Munir; Imam Ghozali
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 8, No 1 (2022): January 2022
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.8.1.513-524.2022

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui bagaimana persepsi Mahasiswa terhadap pembelajaran daring di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Untan Pontianak (2) Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung maupun penghambat terlaksananya pembelajaran daring. Jenis penelitian merupakan Deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data peneliti berasal dari informan, observasi, dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran daring. Adapun analisis data meliputi, reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah bahwa hampir keseluruhan mahasiswa baik Pendidikan Seni Musik maupun Tari berpendapat bahwa mata kuliah praktek sebaiknya dilaksanakan secara tatap muka dengan alasan mahasiswa masih bergantung pada peralatan penunjang perkuliahan yang ada di kampus. Dengan pembelajaran tatap muka mata kuliah praktik lebih mudah dipahami terutama pada teknik memainkan alat musik bagi mahasiswa musik dan juga teknik gerak bagi mahasiswa tari. Sedangkan mata kuliah teori mahasiswa memilih daring. Namun tidak dipungkiri ada mata kuliah tertentu bersifat teori, menurut mahasiswa lebih baik dilaksanakan secara tatap muka, contohnya: Teori Musik, Harmoni, notasi tari, hal ini disebabkan mata kuliah tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih dalam. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pelaksanaan mata kuliah secara daring maupun tatap muka berdasarkan persepsi mahasiswa dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Pemanfaatan Aplikasi Untuk Pembelajaran Daring di SD Negeri 27 Sungai Raya Kalimantan Barat Nurmila Sari Djau
Dikmas: Jurnal Pendidikan Masyarakat dan Pengabdian Vol 2, No 4 (2022): December
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/dikmas.2.4.1147-1152.2022

Abstract

Pelaksanaan Pembelajaran Blended Learning masih dilakukan sampai saat ini, namun kurangnya kompetensi guru memanfaatkan aplikasi masih menjadi hambatan dalam melaksanakan pembelajaran daring, salah satunya di SD N 27 Sungai Raya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan aplikasi untuk melaksanakan pembelajaran daring. Kegiatan dilaksanakan dalam 3 tahapan, yaitu: tahap sosialisasi, tahap simulasi, dan tahap implementasi. Pada tahap sosialisasi, peserta mengikuti pengenalan Google secara umum. Pada tahap simulasi peserta secara bersama maupun perorangan mempelajari cara mengoperasionalkan aplikasi google hingga merancang pada mata pelajaran yang dipilihnya. Pada tahap implementasi, peserta mengimplementasikannya pada pembelajaran daring. Hasil dari kegiatan adalah terjadi peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan aplikasi khususnya Google dari 40% memiliki kompetensi menjadi 80% memiliki kompetesi dasar menggunakan aplikasi untuk pembelajaran daring.
Implementasi Nilai- Nilai Sosial Tradisi Amot Samper (Studi kasus pada Masyarakat Desa Menyabo, Kalimantan Barat) Nurmila Sari Djau; Asfar Muniir; Imam Ghozali
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 9, No 1 (2023): January 2023
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.9.1.187-198.2023

Abstract

This study aims at describing the implementation of social values in the Amot Samper Tradition by the community in Menyabo Village, Sanggau Regency. Employing the qualitative descriptive design, sociological studies were used as the scientific approach in this study. The data were gathered using interviews, observation and documentation. The data sources were from resource persons/informants, books, theories, documents related to the social values and traditions of Amot Samper. Data analysis included data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research revealed that the social values in the ritual tradition of Amot Samper were: Religion, Family, Cooperation, Mutual Cooperation, Togetherness and Aesthetic Values. Social values in the ritual tradition of Amot Samper were implemented in the daily life of the people of Menyabo Village. This could be seen from the enthusiasm of the community to participate in existing social activities, as well as the harmonious life of the community in Menyabo Village.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi nilai sosial pada Tradisi Amot Samper oleh masyarakat di Desa Menyabo Kab. Sanggau. Jenis penelitian adalah Kualitatif Deskriptif. Pendekatan keilmuan menggunakan kajian sosiologi. Pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun sumber data berasal dari nara sumber/informan, buku, teori, dokumen yang berkaitan dengan nilai sosial dan tradisi Amot Samper. Analisis data meliputi, reduksi data, penyajian data,dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa nilai-nilai sosial yang terkandung dalam Tradisi ritual Amot Samper antara lain: Religius, Kekeluargaan, Kerjasama, Gotong royong, kebersamaan serta nilai Estetika. Nilai sosial dalam tradisi ritual Amot Samper terimplementasi pada kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Menyabo. Hal ini terlihat dari antusias masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan sosial yang ada, serta rukunnya kehidupan masyarakat di Desa Menyabo.
Implementasi Pendidikan Karakter Pada Paduan Suara Kerubim di Pontianak Nurmila Sari Djau
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v8i2.22080

Abstract

Kerubim merupakan kelompok paduan suara yang berprestasi baik tingkat lokal maupun nasional. Prestasi ini tentunya tidak lepas dari karkater baik yang dimiliki oleh anggota Kerubim. Sehingga penelitian ini diangkat dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pendidikan karakter Paduan Suara Kerubim di Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara dengan pelatih dan anggota Kerubim. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik, sumber, dan perpanjang pengamatan. Analisis data menggunakan tahapan reduksi, penyajian data, dan verifikasi atau kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan karakter pada Paduan Suara Kerubim Pontianak diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan penampilan paduan suara yang dilakukan oleh pelatih terhadap anggota maupun antar anggota itu sendiri. Nilai-nilai karakter yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, dan kerjasama. Implementasi pendidikan karakter dilakukan oleh pelatih atau pembina dengan cara melatih para anggota untuk membiasakan diri untuk patuh pada aturan, selalu memotivasi anggota untuk terus mengembangkan diri, memberikan contoh kepada anggota untuk melakukan kebiasaan yang baik. serta menegur dan memberikan sanksi apabila melanggar
Pelatihan Penciptaan Tari Anak Bagi Guru Seni Budaya SD Dan SMP di Kabupaten Kayong Utara Dwi Oktariani; Ismunandar Ismunandar; Regaria Tindarika; Mega Cantik Putri Aditya; Aline Rizky Oktaviari; Imma Fretisari; Imam Ghozali; Nurmila Sari Djau; Yudhistira Oscar Olendo; Zakarias Aria Widyatama P; Asfar Munir; Christianly Y; Egi Putri Grandena; Mastri Dihita Sagala; Deplo Supoyo
Wahana Dedikasi: Jurnal PkM Ilmu Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2023): Wahana Dedikasi : Jurnal PkM Ilmu Kependidikan
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/dedikasi.v6i2.13576

Abstract

Pelatihan penciptaan tari anak bagi guru seni budaya SD dan SMP di Kabupaten Kayong Utara menjadi hal yang penting mengingat kurangnya pelatihan penciptaan tari anak khususnya dalam pembelajaran seni budaya. Tari anak menjadi hal yang sangat penting untuk dikuasai oleh para guru seni budaya, karena mengingat sifat dan kemampuan anak dalam bergerak akan memiliki perbedaan dikarenakan perkembangan kemampuan motorik kasar dan halusnya. Metode pelaksanaan PKM memiliki tahapan-tahapan yaitu persiapan dengan berkoordinasi dengan mitra, tahap pelaksanaan menyampaikan materi tari anak, tahap mempraktikan tari anak, dan tahap pendemonstrasian peserta akan hasil ciptaan tarinya. . Hasil yang diperoleh dalam PKM ini yaitu peserta memiliki kemampuan dalam menciptakan tari anak. Meningkatkan wawasan peserta didik mengenai elemen-elemen komposisi taru, tahap eksplorasi,improvisasi, evaluasi gerak hingga menjadikan 1 karya tari yang utuh guna dijadikan referensi menari kedepannya. Pelatihan penciptaan tari anak bagi guru SD dan SMP di Kayong Utara sebagai program Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura membuahkan hasil kerjasama antar pelaksana dan mitra.
Intensitas Budaya pada Musik Iringan Tari Tiga Serangkai di Sanggar Andari Lukyantus Lukyantus; Nurmila Sari Djau; Mastri Dihita Sagala
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.32944

Abstract

Tari Tiga Serangkai merupakan karya tari dari Sanggar Andari yang tercipta pada tahun 2002 atas respon terhadap konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1996. Kemajemukan itu dilihat oleh Kusmindari Triwati bukan sesuatu yang memecah belah justru menjadi simbolik Persatuan dan menjadi dasar terbentuknya tari Tiga Serangkai. Tari yang tidak lepas dari musik pengiringnya tentunya saling berkorelasi dalam konsep persatuan dari berbagai etnis tersebut, sehingga Intensitas Budaya yang terkandung di dalam karya ini menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam terutama sebagai sebuah medium pemersatu masyarakat yang mejemuk di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif serta Etnomusikologi sebagai pendekatan dalam menggali lebih dalam mengenai intensitas budaya dalam sudut pandang musik. Intensitas budaya yang terkandung dalam karya tari Tiga Serangkai oleh Sanggar Andari tampak melalui penyatuan elemen musik dan tarian dari berbagai latar belakang etnis yang ada di Kalimantan Barat. Intensitas Budaya yang terkandung dalam tari Tiga Serangkai bukan hanya sebuah karya gerak tari namun lebih dalam karya tersebut sebagai sebuah penggambaran sejarah, nilai, serta menjadi ruang dialektika antar suku menuju keharmonisan di Kalimantan Barat.   Tiga Serangkai dance is a dance work from Sanggar Andari that was created in 2002 in response to the ethnic conflict that occurred in West Kalimantan in 1996. The plurality is seen by Kusmindari Triwati as not something that divides, but instead becomes a symbolic unity and becomes the basis for the formation of Tiga Serangkai dance. The dance that cannot be separated from the accompanying music is certainly correlated with the concept of unity of the various ethnicities, so that the Cultural Intensity contained in this work becomes interesting to be examined more deeply, especially as a unifying medium for pluralistic communities in West Kalimantan. This research uses qualitative research using descriptive methods and Ethnomusicology as an approach in digging deeper into cultural intensity from a musical point of view. The cultural intensity contained in the Tiga Serangkai dance work by Sanggar Andari is seen through the unification of music and dance elements from various ethnic backgrounds in West Kalimantan. The cultural intensity contained in Tiga Serangkai dance is not only a work of dance movements but deeper than that work as a depiction of history, values, and a dialectical space between tribes towards harmony in West Kalimantan.
Interaksi Simbolik dalam Penyajian Musik Iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak Nanang Akbar; Mastri Dihita Sagala; Nurmila Sari Djau
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33930

Abstract

Keberhasilan sebuah penyajian kesenian tradisional merupakan hasil dari proses interaksi antar para pemain, baik melalui verbal maupun melalui simbol. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik antara penari dan pemusik dalam sebuah penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menyajikan segala proses interaksi yang terjalin dari proses awal garapan, latihan, hingga penyajian karya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan sosiokultur untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik terwujud berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data mengguanakan triangulasi sumber, yakni wawancara terhadap pemilik sanggar, komposer musik penari. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bentuk penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana menjadi upaya pewarisan dalam melestarikan budaya Melayu. Proses ini melalui kegiatan penyampaian ide garapan dari komposer kepada para pemusik, proses latihan antara pemusik dan penari hingga sampai kepada penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa interaksi simbolik tidak serta merta terjadi pada suatu komunitas sanggar, melainkan tumbuh berdasarkan penerimaan ide, penyamaan persepsi dan adaptasi yang berlangsung secara kontinu sehingga menjadi budaya yang perlu dilestarikan.   The success of a traditional art presentation is the result of the process of interaction between the players, both verbally and through symbols. The purpose of this study is to reveal how the process of symbolic interaction between dancers and musicians in a musical presentation accompaniment to Rampak Rebana Dance at Sanggar Andari Pontianak. This research uses qualitative descriptive methods to present all interaction processes that are established from the initial process of cultivation, exercise, to the presentation of works. The research approach uses a sociocultural approach to reveal how the process of symbolic interaction is realized based on habits that occur in the community. Data were collected through observation, interviews and documentation. Data validity using source triangulation, which is an interview with the owner of the studio, the composer of dancer music. Data analysis techniques through the stages of data reduction, data presentation and conclusions.  The results of this study show that the form of presenting accompaniment music of Rampak Rebana Dance is an inheritance effort in preserving Malay culture. This process is through the activity of conveying ideas made by the composer to the musicians, the process of rehearsal between musicians and dancers to the presentation of music accompaniment to the Rampak Rebana Dance. In addition, this study proves that symbolic interaction does not necessarily occur in a studio community, but grows based on the acceptance of ideas, equalization of perceptions and adaptation that takes place continuously so that it becomes a culture that needs to be preserved.